RSS

Arsip Bulanan: Oktober 2013

Eksposisi Injil Yohanes


Eksposisi Injil Yohanes

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


Yohanes 12:1-8

Pendahuluan:

1)   Cerita ini tidak paralel dengan Luk 7:36-50, karena ada beberapa perbedaan yang cukup menyolok, seperti:

  • dalam Lukas perempuan yang mengurapi ditekankan sebagai perempuan berdosa, di sini tidak.
  • dalam Lukas ada dialog antara Yesus dengan Simon, di sini tidak.
  • dalam Lukas, yang mengkritik tindakan perempuan itu adalah Simon, dan ia mengkritik dalam hatinya. Sedangkan di sini yang mengkritik adalah Yudas Iskariot, dan ia mengkritik dengan ucapan.
  • dalam Lukas, kritikannya adalah karena Yesus yang adalah seorang nabi mau diurapi oleh seorang perempuan berdosa. Sedangkan di sini, kritikannya adalah karena pengurapan dengan minyak wangi yang mahal itu dianggap sebagai pemborosan uang yang seharusnya bisa diberikan kepada orang miskin.

Kesimpulannya:

Sekalipun 2 cerita ini mirip, tetapi sebetulnya merupakan 2 cerita yang berbeda!

2)   Yoh 12:1-8 ini paralel dengan:

  • Mark 14:3-9.
  • Mat 26:6-13.

Memang ada perbedaan-perbedaan sehingga ada orang-orang yang meragukan keparalelannya, tetapi sebetulnya perbedaan-perbedaan itu bisa dijelaskan.

a)   Dalam Yoh 12:1 dikatakan bahwa peristiwa itu terjadi 6 hari sebe­lum Paskah, sedangkan dalam Mat 26:2 dikatakan 2 hari sebelum Paskah. Demikian juga dengan dalam Markus (bdk. Mark 14:1).

Pengharmonisan:

Yohanes menulis sesuai dengan urut-urutan waktu / chronologis:

  • Yoh 12:1-8: ia menceritakan tentang pengurapan Yesus.
  • Yoh 12:12-16: ia menceritakan peristiwa dimana Yesus masuk Yeru­salem naik keledai.

Matius dan Markus tidak menulis sesuai dengan urut-urutan waktu (tidak chronologis). Jadi Mat 26:6-13 itu sebetulnya tidak terjadi setelah Mat 26:1-5, tetapi sebelum Mat 21:1-11 (Yesus masuk ke Yerusalem naik keledai).

b)   Dalam Yoh 12:3 dikatakan bahwa pengurapan dilakukan pada kaki Yesus, sedangkan dalam Mat 26:7 dikatakan bahwa pengurapan dilaku­kan pada kepala Yesus.

Pengharmonisan:

Pengurapan biasanya memang dilakukan pada kepala, tetapi karena Maria mencurahkan begitu banyak minyak [bdk. Yoh 12:3  ‘setengah kati’ [NASB: a pound; NIV: a pint; footnote NIV: about 0.5 liter (= sekitar setengah liter)], maka minyak yang dicurahkan ke kepala itu turun ke tubuh (bdk. ay 12 – ‘sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh­Ku’), dan terus sampai ke kaki Yesus, lalu Maria menyekanya dengan rambutnya.

c)   Dalam Matius dan Markus, pemilik rumah disebut sebagai Simon si kusta, tetapi perempuan yang mengurapi Yesus tidak disebutkan nama­nya. Dalam Yohanes, perempuan yang mengurapi disebut Maria (Yoh 12:3), sedangkan pemilik rumah tidak disebutkan namanya.

Ini bukan kontradiksi tetapi saling melengkapi!

d)   Dalam Matius, yang gusar dan menegur perempuan itu adalah murid-murid (Mat 26:8). Dalam Markus hanya dikatakan ‘ada orang’ (Mark 14:4), sedangkan dalam Yohanes dikatakan Yudas Iskariot (Yoh 12:4).

Pengharmonisan:

Mungkin sekali Yudas Iskariot yang mulai menegur / mengkritik sehingga ‘membakar’ murid-murid lain, dan akhirnya semua ikut mengkri­tik.

Penerapan:

Ini mengajar kita untuk tidak membiarkan diri kita dihasut oleh orang lain. Juga untuk tidak ikut-ikutan mengkritik orang sebelum tahu dengan jelas salah tidaknya orang itu.

Ay 1:

1)   Ay 1a: ‘Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania’.

a)   Ini menunjukkan kerelaan Yesus untuk menderita dan mati bagi kita.

Terjemahan Kitab Suci Indonesia kurang benar, karena seharusnya dalam ay 1 itu ada kata ‘therefore’ (= karena itu).

NASB: ‘Jesus, therefore, six days before the Passover, came to Bethany’ (= Yesus, karena itu, 6 hari sebelum Paskah, datang di Betania).

Apa pentingnya kata ‘therefore’ ini? Kata ini menunjukkan bahwa apa yang Yesus lakukan itu berhubungan dengan kontex sebelumnya (bagian terakhir dari Yoh 11).

Dalam Yoh 11:53 terlihat bahwa tokoh-tokoh Yahudi sudah bersepakat untuk membunuh Yesus. Itu menyebabkan Yesus, karena tahu bahwa waktunya belum sampai, lalu pergi ke dekat gurun (Yoh 11:54), untuk menghindarkan penangkapan. Tetapi pada waktu waktunya memang sudah dekat (kurang 6 hari), sekalipun Yesus pasti tahu adanya pencarian dan perintah penangkapan terhadap dirinya (Yoh 11:56-57), Ia sengaja pergi ke Betania / mendekati Yerusalem.

Ini menunjukkan bahwa Ia memang mendekati kematian karena Ia memang rela mati disalib untuk dosa manusia, termasuk dosa saudara dan saya.

b)   Calvin menambahkan alasan lain mengapa 6 hari sebelum Paskah Yesus sudah mendekati Yerusalem, yaitu supaya Yudas punya waktu untuk mengkhianati Dia.

Calvin: “He intended to give Judas a fit time and place for betraying him” (= Ia bermaksud memberi Yudas waktu dan tempat yang cocok untuk mengkhianati Dia).

2)   Betania, adalah tempat tinggal Lazarus, yang baru Ia bangkitkan dari antara orang mati (ay 1b).

Ay 2-3:

1)   Di situ diadakan suatu perjamuan untuk Yesus (ay 2a).

Dari Mat 26:6 dan Mark 14:3 bisa kita ketahui bahwa perjamuan itu tidak diadakan di rumah Marta, Maria, dan Lazarus, tetapi di rumah Simon si kusta.

Ada orang yang mengatakan bahwa Simon ini adalah keluarga, bahkan suami, dari Marta. Tetapi tidak ada dasar apapun untuk mendukung pandangan ini.

2)   Tindakan kasih Marta dan Maria (ay 2-3).

Sebetulnya dengan mereka berani datang ke perjamuan yang diadakan untuk Yesus, padahal ada perintah penangkapan terhadap Yesus (Yoh 11:56-57  bdk. juga Yoh 12:10), jelas sudah menunjukkan suatu tindakan kasih.

Tetapi masih ada tindakan kasih yang lain, baik dari Marta maupun dari Maria.

a)   Dalam perjamuan itu Marta melayani (ay 2).

Sekalipun dalam cerita ini maupun dalam Luk 10:38-42 Marta selalu digambarkan inferior / lebih rendah dari Maria, tetapi apa yang ia lakukan di sini tetap merupakan sesuatu yang baik, yang patut ditiru! Berbeda dengan peristiwa dalam Luk 10:38-42, yang memang diadakan di rumahnya (Luk 10:38), perjamuan ini tidak diadakan di rumahnya. Tetapi toh ia tidak bersikap sebagai tamu yang minta dilayani, tetapi sebaliknya ia melayani!

Penerapan:

Gereja membutuhkan orang-orang kristen yang mau melayani, bukan yang hanya duduk berpangku tangan! Kalau saudara bukan orang yang aktif melayani Tuhan, sadarilah bahwa saudara hidup dalam dosa pasif!

b)   Maria mengurapi Yesus dengan minyak wangi (ay 3).

  • Ia mengambil 1/2 kati minyak narwastu murni yang mahal harganya.

NIV: a pint; NASB: a pound.

Yunani: LITRA = a Roman pound = 327,45 gram.

Ini jumlah yang sangat banyak untuk suatu pengurapan!

Penerapan:

Banyak orang datang ke gereja hanya untuk menerima, tetapi Maria datang untuk memberi sebagai balasan atas apa yang ia sudah terima!

  • Ia memecahkan leher buli-buli / botolnya (Mark 14:3) dan lalu mencurahkan isi buli-buli (Mat 26:7) untuk mengurapi Yesus. Padahal harganya sekitar 300 dinar (mendekati upah seorang buruh dalam 1 tahun! – Mat 20:2). Banyak orang dalam memberi cuma melubangi botol minyak wanginya lalu mengencrotkan isinya!

Apakah kalau saudara mau memberi kepada Kristus, saudara sering lalu menguranginya, dengan pemikiran bahwa itu terlalu banyak untuk diberikan kepada Yesus?

Pulpit Commentary: “A loving heart judges no offering too precious for Christ” (= hati yang mengasihi menilai bahwa tidak ada persembahan yang terlalu berharga untuk Kristus).

Badan misi WEC mempunyai motto:

“Karena Yesus Kristus adalah Allah dan telah mati bagiku, maka tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk kupersembahkan bagiNya!”.

William Barclay: “Love is not love if it nicely calculates the cost. It gives its all and its only regret is that it has not still more to give (= Cinta itu bukan cinta kalau itu memperhitungkan biaya / harga. Cinta itu memberikan semua miliknya dan satu-satunya penyesalan adalah bahwa ia tidak mempunyai lebih banyak lagi untuk diberikan).

Seseorang mengatakan:

“A gift is never really a gift when we can easily afford it; a gift truly becomes a gift when there is sacri­fice behind it, and when we give far more than we can afford” (= suatu pemberian tidak pernah betul-betul merupakan suatu pemberian kalau kita dapat mengusahakannya dengan mudah; suatu pemberian betul-betul adalah suatu pemberian kalau ada pengorbanan dibalik pemberian itu, dan kalau kita memberikan jauh lebih banyak dari kemampuan kita).

Bandingkan dengan 1Taw 21:18-26  Luk 21:1-4  2Kor 8:1-5!

Pikirkan:

*        kalau saudara adalah seorang cewek dan seorang cowok mengatakan bahwa ia mencintai saudara tetapi selalu pelit dan penuh perhitungan demi saudara, apakah saudara percaya cintanya? Analoginya, kalau dalam memberi untuk Tuhan saudara selalu pelit dan penuh perhitungan, apakah itu menunjukkan bahwa saudara mencintai Tuhan? Ingat bahwa tidak mencintai Tuhan adalah pelanggaran terhadap hukum yang terutama (Mat 22:37).

*        kalau saudara punya anak, dan ia meminta sesuatu yang baik, tetapi saudara tidak mampu membelikannya untuk dia, apakah saudara menyesal mengapa saudara tidak lebih kaya supaya bisa membelikannya? Kalau ya, itulah cinta! Sekarang dalam hubungan dengan Tuhan, pernahkah saudara menyesal mengapa tidak lebih kaya supaya bisa memberi lebih banyak? (Catatan: Tetapi penyesalan seperti ini baru bisa ada kalau saudara sudah memberi sampai notok! Kalau belum notok tetapi sudah menyesal mengapa tidak lebih kaya, maka penyesalan seperti itu adalah omong kosong!) Kalau penyesalan seperti ini ada, itu tanda cinta kepada Tuhan.

*        apakah saudara berpikir bagaimana bisa mengirit supaya bisa memberi lebih banyak untuk Tuhan? Mungkin mengurangi / membuang acara nonton bioskop, jajan / makan di restoran, main golf, beli barang-barang lux, beli pakaian, dsb, supaya bisa memberi lebih banyak untuk Tuhan?

*        satu hal lagi yang harus dipikirkan adalah: orang yang tidak mau melepas harta / uang demi Tuhan pasti akan rugi secara kekal! (bdk. Mat 19:16-26  Luk 14:33)!

c)   Maria melakukan tindakan kasihnya dengan rendah hati.

Ini terlihat dari ay 3 yang mengatakan bahwa ia menyeka kaki Yesus dengan rambutnya! Maria memberi banyak tetapi ia tetap memberi dengan rendah hati.

Penerapan:

Ada banyak orang kristen, karena memberi banyak, lalu memberi dengan sombong / bangga, dan mereka berpikir bahwa tanpa pemberian mereka gereja pasti bangkrut! Apakah saudara memberi dengan sikap seperti itu, atau dengan sikap seperti sikap Maria?

Lebih dari itu, pada jaman itu perempuan Yahudi yang menampakkan rambutnya dianggap tidak bermoral / pelacur. Tetapi Maria rela dianggap hina demi Yesus.

Penerapan:

Kalau apa yang saudara lakukan bagi Tuhan menyebabkan saudara direndahkan / dihina oleh orang di sekeliling saudara, maukah saudara tetap melakukannya?

3)   Alasan Marta dan Maria melakukan tindakan kasih.

Alasan Marta dan Maria melakukan tindakan kasih seperti itu, jelas karena pembangkitan Lazarus oleh Yesus (Yoh 11). Untuk Maria mungkin ditambahi dengan pelajaran Firman Tuhan yang ia terima dalam Luk 10:39.

Penerapan:

Apakah saudara merasakan banyak kebaikan dari Yesus? Ada banyak kebaikan Yesus bagi saudara, seperti:

  • Pengorbanan / Penebusan Kristus bagi saudara.

Dalam hal ini kita seharusnya merasakannya jauh lebih hebat dari Marta dan Maria, karena saat itu Yesus belum mati di salib. Memang dikatakan bahwa Maria mengurapi Yesus untuk penguburan Yesus, tetapi ini memungkinkan dua hal:

*        Mungkin Maria hanya bertindak sesuai dorongan Tuhan, tetapi ia tidak mengerti tentang kematian Yesus.

*        Mungkin Maria mengerti tentang kematian Yesus yang mendekat, tetapi sampai dimana ia mengerti tentang kematian Yesus untuk menebus dosanya?

Tetapi bagi kita, pengorbanan dan kematian Kristus untuk menebus dosa kita ini sudah jelas.

  • Pertumbuhan iman dan pengertian Firman Tuhan.
  • Pemeliharaan jasmani, keluarga, pekerjaan dsb.
  • Hal-hal jelek yang Tuhan jauhkan dari diri kita.

Karena Marta dan Maria merasakan kebaikan Tuhan, maka mereka melakukan tindakan kasih kepada Tuhan. Apakah saudara merasakan kebaikan Tuhan? Lalu apa tindakan kasih saudara? Ada orang yang katanya kristen, tetapi melayani tidak mau, memberi tidak mau. Ini betul-betul orang yang tidak tahu terima kasih!

Ay 4-6:

1)   Ada serangan terhadap tindakan kasih Maria (ay 4-5).

Karena itu, kalau saudara berbuat baik / melakukan sesuatu yang benar karena kasih saudara kepada Tuhan, jangan heran kalau saudara bukannya dipuji, tetapi bahkan diserang / dikritik.

2)   Orang yang mengkritik Maria.

Injil Yohanes hanya menceritakan Yudas sebagai pengkritik (ay 4-6), tetapi sebetulnya ada orang-orang lain yang juga ikut mengkritik, yaitu:

  • Mat 26:8: ‘murid-murid’. Ini menunjuk kepada rasul-rasul!
  • Mark 14:4-5: ’Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain … Lalu mereka memarahi perempuan itu’.

Semua ini menunjukkan bahwa yang mengkritik ada banyak. Mungkin Yudas yang memulai kritikan itu dan lalu diikuti oleh murid-murid Yesus yang lain.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:

¨      Ketidaksenangan Yudas terhadap tindakan Maria akhirnya menyebar dan menimbulkan ketidaksenangan dalam diri rasul-rasul yang lain. Ini salah satu alasan mengapa kita dilarang ngrasani orang (1Kor 13:7 – ‘Ia (kasih) menutupi segala sesuatu’; Amsal 10:12b – ‘kasih menutupi segala pelanggaran’; bdk. Amsal 17:9).

Penerapan:

Karena itu hati-hati dalam menyatakan ketidaksenangan saudara terhadap seseorang, apalagi kalau orang itu hamba Tuhan. Perasaan tidak senang ini bisa menyebar / menular!

Catatan: kita boleh menceritakan kejelekan seseorang dengan tujuan melindungi orang yang kita ceritai itu dari kejelekan itu. Misalnya membicarakan kesesatan seorang nabi palsu, supaya orang yang kita ceritai itu tidak ikut disesatkan. Ini terlihat dari diri Yesus, yang juga membicarakan kesesatan orang Farisi dan ahli Taurat (Mat 16:5-12).

¨      rasul-rasul yang lain, yang sebetulnya adalah orang nggenah, ternyata ikut-ikutan dengan kesalahan Yudas dalam mengkritik orang yang justru melakukan tindakan kasih kepada Kristus.

Pulpit Commentary: “How ready even good men are at times to respond to the suggestions of selfish but plausible men” (= Bahkan orang-orang yang baik kadang-kadang siap untuk menanggapi usul dari orang yang egois tetapi logis).

¨      sekalipun yang mengkritik banyak, belum tentu kritikannya benar! Ingat bahwa kebenaran bukanlah persoalan demokrasi. Yang banyak belum tentu benar!

¨      para pengkritik dari tindakan kasih Maria itu ternyata adalah orang-orang yang mempunyai jabatan yang tinggi dalam gereja, yaitu rasul.

Penerapan:

Kalau saudara memang melakukan sesuatu yang benar, saudara tidak perlu takut / mundur sekalipun saudara dikritik oleh banyak orang, bahkan oleh orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam gereja (seperti Pdt, majelis dsb). Belajarlah untuk taat kepada Allah lebih dari pada kepada manusia (bdk. Kis 5:29).

3)   Kritikan dan alasan Yudas (ay 5-6).

a)   Yudas Iskariot sendiri tidak melakukan tindakan kasih untuk Tuhan, tetapi ia mengkritik orang yang melakukan tindakan kasih (ay 4-5)!

William Hendriksen: “The selfish person cannot understand the unselfish individual” (= Orang yang egois tidak bisa mengerti orang yang tidak egois).

Penerapan:

Dalam gereja ada banyak tukang kritik seperti ini, padahal dirinya sendiri tidak melakukan / memberi apa-apa untuk Tuhan! Kalau saudara adalah orang seperti itu, bertobatlah sebelum saudara menjadi seperti Yudas!

b)   Yudas menilai tinggi harga minyak wangi itu (ay 5 – 300 dinar).

Tetapi celakanya, ia menilai rendah Gurunya sendiri (Mat 26:15 – tiga puluh keping perak, ini harga seorang budak – Kel 21:32!).

Memang, kalau saudara menganggap suatu persembahan untuk Yesus itu terlalu besar, itu pasti berarti bahwa saudara menilai rendah Tuhan Yesusnya sendiri!

c)   Yudas mengatakan bahwa minyak wangi itu sebaiknya dijual, dan uangnya diberikan kepada orang miskin (ay 5).

Dari usul Yudas ini, dan juga dari Yoh 13:29, terlihat bahwa kas saat itu memang sering digunakan untuk menolong orang miskin, dan karenanya usul Yudas terlihat sangat logis.

d)   Alasan Yudas yang sebenarnya.

Rasul Yohanes mengatakan bahwa: “Hal itu dikatakannya hal itu bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya” (ay 6). Dari bagian ini ada beberapa hal yang bisa dipelajari:

  • Yudas berbeda dengan rasul-rasul yang lain. Rasul-rasul yang lain, sekalipun kritikannya salah, tetapi motivasinya benar, sedangkan Yudas salah baik dalam kritikan maupun motivasinya!
  • Yudas menggunakan ‘amal’ sebagai topeng untuk ketamakan / pencuriannya!

Pulpit Commentary: “Sinful motives often hides itself under the mask of reverence for another virtue” (= Motivasi yang berdosa sering menyembunyikan dirinya sendiri di bawah topeng hormat pada kebaikan yang lain).

Ini merupakan sesuatu yang sering terjadi! Misalnya, dompet bencana alam yang dikorupsi sehingga tidak mencapai orang-orang yang membutuhkan bantuan. Karena itu, kalau saudara ingin menyumbang, aturlah sedemikian rupa sehingga betul-betul bisa mencapai orang-orang yang membutuhkan bantuan itu!

  • Dari pencurian yang sering dilakukan oleh Yudas Iskariot ini (ay 6), terlihat jelas bahwa Yudas bukan orang kristen sejati (bdk. juga Yoh 6:70  Yoh 13:10-11). Karena itu kebinasaan Yudas tidak menunjukkan bahwa ia kehilangan keselamatannya! Ia tidak pernah diselamatkan!
  • Secara umum, kita tidak boleh memakai orang yang tidak jujur sebagai bendahara, atau orang yang kita tahu adalah orang jahat sebagai pelayan Tuhan.

Yesus memang memakai seorang pencuri sebagai bendahara, tetapi ini disebabkan karena Ia mau menggenapi Rencana Allah, yang menetapkan diriNya untuk dikhianati oleh Yudas (Luk 22:22).

Calvin: “The case was otherwise with Christ, who, being the eternal Wisdom of God, furnished an opportunity for his secret predestination in the person of Judas” (= Kasusnya berbeda dengan Kristus, yang, adalah Hikmat Allah yang kekal, memberi kesempatan untuk predestinasinya yang rahasia dalam diri Yudas).

e)   Dari semua ini terlihat bahwa dari pada mengkritik Maria, seharusnya Yudas mengintrospeksi dirinya sendiri, karena sebetulnya kritikannya muncul dari kebejatannya sendiri (bdk. Mat 7:1-5).

William Barclay: “We see how a man’s view can be warped. Judas had just seen an action of surpassing loveliness; and he called it extravagant waste. He was an embitered man and he took an embittered view of things. A man’s sight depends on what is inside him. He sees only what he is fit and able to see. If we like a person, he can do little wrong. If we dislike him, we may misinterpret his finest action. A warped mind brings a warped view of things; and, if we find ourselves becoming very critical of others and imputing unworthy motives to them, we should, for a moment, stop examining them and start examining ourselves” [= Kita melihat bagaimana pandangan seseorang bisa dibengkokkan. Yudas baru melihat suatu tindakan yang keindahannya melebihi yang lain; dan ia menyebutnya pemborosan yang berlebihan. Ia adalah orang yang pahit dan ia mempunyai pandangan yang pahit. Pandangan seseorang tergantung apa yang ada di dalam dia. Ia hanya melihat apa yang ia siap dan bisa lihat. Jika kita menyukai seseorang, ia hanya bisa sedikit berbuat salah. Jika kita tidak menyukainya, kita bisa menyalahtafsirkan tindakannya yang terbaik. Pikiran yang bengkok menimbulkan pandangan yang bengkok; dan, jika kita mendapati diri kita sendiri menjadi sangat kritis terhadap orang-orang lain dan memperhitungkan motivasi-motivasi yang memalukan / tak pantas pada mereka, kita harus, untuk suatu saat, berhenti memeriksa mereka dan mulai memeriksa diri kita sendiri].

4)   Sikap / jawaban Yesus (ay 7-8).

Ada beberapa hal penting di sini:

a)   Dari kata-kata Yesus ini terlihat dengan jelas bahwa Ia menyalah­kan para pengkritik dan membenarkan Maria.

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan:

  • Biasanya, kalaupun kita tahu seseorang itu benar, tetapi karena yang menyerang / mengkritik banyak, kita lalu memilih amannya dengan jalan berdiam diri, atau bahkan berpihak kepada para penyerang. Ini jelas adalah sikap yang salah. Kita harus meniru Yesus yang berani membela orang benar yang diserang / dikritik oleh banyak orang.
  • Tidak jadi soal berapa banyak orang menyalahkan kita, yang penting Tuhan membenarkan / memuji kita. Rasul Paulus juga tidak mem-pedu­likan penghakiman manusia, dan hanya mempedulikan penghakiman Tuhan saja (1Kor 4:3-4).

Bisakah / maukah saudara mempunyai sikap seperti ini?

b)   Dari pembelaan Kristus atas tindakan Maria ini, bisakah kita membenarkan gereja yang menghamburkan banyak uang untuk membangun gerejanya secara mewah?

Saya pernah mendengar tentang gereja yang menghabiskan uang Rp 5 juta hanya untuk membuat tanda salib. Dan pada waktu saya menyatakan ketidaksetujuan saya, ada orang yang menggunakan bagian ini sebagai pembelaan terhadap tindakan itu. Juga Kel 25-dst dan 1Taw 22:5 yang menunjukkan pembangunan Kemah Suci / Bait Allah secara sangat mewah, bisa mendukung pembangunan gereja secara mewah.

Tetapi perlu diingat bahwa baik pembangunan Kemah Suci / Bait Allah boleh dikatakan dilakukan oleh seluruh negara / bangsa, sehingga tidak kekurangan dana, tetapi sebaliknya justru kelebihan dana. Ini berbeda dengan situasi kita saat ini. Juga penggunaan emas mungkin sekali mempunyai arti tertentu.

Bdk. juga 1Kor 10:23 – “‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun”.

Dari semua ini saya tetap lebih condong untuk tidak membangun gereja dengan kemewahan yang tidak berguna. Kalau gereja kelebihan uang, lebih baik uangnya digunakan untuk mendukung gereja lain (gereja yang baik, bukan seadanya gereja!), yang kekurangan dana.

c)   Kalau ada orang mempersembahkan sesuatu / uang untuk Tuhan, maka kita tidak boleh sembarangan mengalihkan hal itu untuk orang miskin!

Pulpit Commentary: “The greatest motive for generous and affectionate interest in the poor is that they represent the Lord; but they are not to be rivals of the Lord himself” (= Motivasi yang teragung untuk perhatian yang murah hati dan penuh kasih kepada orang-orang miskin adalah bahwa mereka mewakili Tuhan; tetapi mereka tidak boleh menjadi saingan Tuhan sendiri).

Penerapan:

  • Jangan menggunakan kas gereja untuk menyumbang orang miskin (kecuali kalau gereja mempunyai kas khusus untuk diakonia)! Jemaat memberikan uang itu untuk Tuhan, bukan untuk orang miskin! Jadi, kalau mau menyumbang orang miskin, sebaiknya diedarkan kantong persembahan khusus untuk hal itu.
  • Ini berlaku juga untuk persembahan persepuluhan. Itu adalah milik Tuhan (Im 27:30) dan harus dipersembahkan kepada Tuhan / gereja (Ul 12:5-6  Neh 10:37-38  13:10-12), dan tidak boleh saudara alihkan kepada orang miskin, dsb!

d)   Sekalipun saat itu Yesus membenarkan tindakan Maria, tentu saja itu tidak berarti bahwa Ia menghendaki supaya pengurapan dengan minyak wangi itu dilakukan setiap hari! Perhatikan bahwa Yesus membela tindakan Maria itu dengan alasan bahwa itu dilakukan untuk penguburanNya (ay 7), dan ini menunjukkan bahwa hal itu tidak boleh dilakukan terus menerus. Calvin bahkan mengatakan bahwa ay 8 ditambahkan untuk menunjukkan bahwa tindakan Maria hanya benar untuk kali itu saja, untuk selanjutnya mereka harus memperhatikan orang miskin.

e)   Tuhan Yesus berkata bahwa apa yang Maria lakukan itu adalah suatu persiapan untuk penguburanNya (ay 7).

Ada yang berpendapat bahwa Maria sendiri belum tentu melakukan pengurapan itu dengan tujuan seperti itu, tetapi Calvin menganggap bahwa Maria memang melakukan tindakan itu untuk penguburan Yesus. Jadi, dalam hal ini Maria melihat lebih jelas dari pada para rasul. Bagamana Maria bisa melakukan hal ini? Calvin menjawab: dari dorongan Roh Kudus.

f)    Yesus bukan menentang pemberian uang bagi orang miskin, tetapi Yesus menekankan bahwa pada saat itu prioritasnya adalah untuk Dia, bukan untuk orang miskin.

Jadi, memberi kepada orang miskin adalah suatu tindakan baik, tetapi pada saat itu, mengurapi Yesus adalah hal yang terbaik. Hal yang sama terjadi dalam Luk 10:38-42, dimana sekalipun melayani Tuhan adalah hal yang baik, tetapi pada saat itu bersekutu dengan Tuhan / mendengar kata-kata Tuhan adalah hal yang terbaik. Mengerti prioritas / mana yang terbaik adalah sesuatu yang sangat penting!

‘My Utmost for His Highest’, tgl 25 Mei: “The great enemy of the life of faith in God is not sin, but the good which is not good enough. The good is always the enemy of the best” (= Musuh besar dari hidup iman dalam Allah bukanlah dosa, tetapi sesuatu yang baik, yang tidak cukup baik. Yang baik selalu merupakan musuh dari yang terbaik).

Bagaimana bisa tahu mana yang harus diprioritaskan?

Ay 8 memberi petunjuk: ‘orang-orang miskin selalu ada pada kamu (bdk. Ul 15:11), tetapi Aku tidak selalu ada pada kamu’.

Jadi, yang bisa ditunda tidak merupakan prioritas, dan yang tidak bisa ditunda harus diprioritaskan.

Catatan: ini tetap harus dicheck dengan Kitab Suci, karena kalau tidak ini bisa disalahgunakan. Misalnya dengan memilih piknik dibanding kebaktian, dengan alasan bahwa kebaktian bisa dilakukan minggu depan, sedangkan pikniknya tidak bisa.

Pengurapan untuk Yesus itu tidak bisa ditunda sehingga berlaku kata-kata “Now or never”!

William Barclay: “Jesus silenced him (Judas) by saying that money could be given to the poor at any time, but a kindness done to him must be done now, for soon the chance would be gone for ever” [= Yesus membungkam dia (Yudas) dengan mengatakan bahwa uang bisa diberikan kepada orang miskin pada setiap saat, tetapi kebaikan yang dilakukan terhadapNya harus dilakukan sekarang, karena kesempatan itu akan segera hilang selama-lamanya].

William Barclay: “There is here one great truth about life. Some things we can do almost any time, but some things we will never do, unless we grasp the chance when it comes” (= Di sini ada satu kebenaran besar tentang kehidupan. Beberapa hal bisa kita lakukan hampir pada setiap saat, tetapi beberapa hal kita tidak akan pernah melakukannya, kecuali kita meraih kesempatan pada saat kesempatan itu datang).

Leon Morris (NICNT): “Opportunity is to be seized while it is there” (= Kesempatan harus diraih pada saat kesempatan itu ada).

5)   Dalam Injil Yohanes hanya ada pembelaan Yesus terhadap apa yang dilakukan oleh Maria, tetapi dalam Matius dan Markus ditunjukkan juga upah Maria.

Mat 26:13 – “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia”.

Yang dimaksud dengan ‘Injil’ di sini adalah seluruh cerita tentang Yesus. Nubuat ini tergenapi dengan masuknya cerita ini ke dalam Kitab Suci.

6)   Reaksi Yudas pada waktu usul / kritikannya ditolak oleh Yesus.

Pada waktu usul Yudas itu ternyata ditolak oleh Yesus (ay 7-8), Yudas menjadi begitu marah, sehingga ia pergi menjual Yesus (Mat 26:14-16 / Mark 14:10-11). Di sini kita melihat bahaya dari dosa, yang makin lama makin membuat orangnya keras hati.

Pulpit Commentary: “The loss of the ointment hurried him to sell his Master. Thus we have the stench of avarice in the same room as the perfume of love” (= Kehilangan minyak menyebabkan ia cepat-cepat menjual Gurunya. Jadi, dalam ruangan yang sama ada bau busuk ketamakan maupun minyak wangi kasih).

Calvin: “We are taught by this instance what a frightful beast the desire of possessing is; the loss which Judas thinks that he has sustained, by the loss of an opportunity for stealing, excites him to such rage that he does not hesitate to betray Christ” (= Kita diajar oleh contoh ini bahwa keinginan untuk memiliki adalah seekor binatang yang menakutkan; kehilangan yang menurut Yudas telah ia derita melalui kehilangan kesempatan mencuri, membangkitkan kemarahannya sedemikian rupa sehingga ia tidak ragu-ragu untuk mengkhianati Kristus).

John Owen: “Every unclean thought or glance would be adultery if it could; every covetous desire would be oppression, every thought of unbelief would be atheism, might it grow to its head” (= Setiap pikiran / pandangan mata yang najis akan menjadi perzinahan kalau memungkinkan; setiap keinginan yang tamak akan menjadi penindasan, setiap pikiran tentang ketidakpercayaan akan menjadi atheisme, kalau hal itu bisa tumbuh sampai puncaknya)‘The Works of John Owen’, vol 6, ‘Temptation and Sin’, hal 12.

Pulpit Commentary: “If men will yield themselves to sin, God will not and does not promise them immunity from temptation, but sometimes even brings them into it” (= Jika manusia mau menyerahkan diri mereka sendiri kepada dosa, Allah tidak berjanji memberikan kekebalan kepada mereka terhadap pencobaan, tetapi kadang-kadang bahkan membawa mereka ke dalam pencobaan itu).

 -AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

 sumber    http://www.golgothaministry.org

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Oktober 2013 inci Renungan

 

MENJUAL SISIR KEPADA BIKSU…itu mustahilv


Pertanyaan :

– Jika perusahaan dimana anda bekerja, adalah sebuah perusahaan pembuat SISIR, memberi tugas untuk menjual sisir pada para biksu di wihara (yang semua kepalanya gundul)
— Bisakah anda melakukannya? Apa jawaban anda?

a) Tidak mungkin, itu mustahil
b) Gile
c) Aku akan sekali mencoba untuk melaksanakan instruksi bos saya
d) Baiklah, saya akan coba
e) Ya, saya pikir bisa menjualnya (5 buah, 10 buah, 50 buah atau lebih, sebutkanlah jumlahnya)

Pilih satu jawaban dan baca tulisan di bawah untuk meilhat apakah anda
termasuk orang yang berjiwa sukses atau tidak.

MENJUAL SISIR PADA BIKSU

Ada sebuah perusahaan “pembuat sisir” yang ingin mengembangkan bisnisnya, sehingga management ingin merekrut seorang sales manager yang baru.

Perusahaan itu memasang IKLAN pada surat kabar. Tiap hari banyak orang yang datang mengikuti wawancara yang diadakan … jika ditotal jumlahnya hampir seratus orang hanya dalam beberapa hari.

Kini, perusahaan itu menghadapi masalah untuk menemukan calon yang tepat di posisi tersebut. Sehingga si pewawancara membuat sebuah tugas yang sangat sulit untuk setiap orang yang akan mengikuti wawancara terakhir.

Tugasnya adalah : Menjual sisir pada para biksu di wihara. Hanya ada 3 calon yang bertahan untuk mencoba tantangan di wawancara terakhir ini. (Mr. A, Mr. B, Mr. C)

Pimpinan pewawancara memberi tugas :
“Sekarang saya ingin anda bertiga menjual sisir dari kayu ini kepada para biksu di wihara. Anda semua hanya diberi waktu 10 hari dan harus kembali untuk memberikan laporan setelah itu.”

Setelah 10 hari, mereka memberikan laporan.

Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. A :

“Berapa banyak yang sudah anda jual?”

Mr. A menjawab: “Hanya SATU.”

Si pewawancara bertanya lagi : “Bagaimana caranya anda menjual?”

Mr. A menjawab:

“Para biksu di wihara itu marah-marah saat saya menunjukkan sisir pada mereka. Tapi saat saya berjalan menuruni bukit, saya berjumpa dengan seorang biksu muda – dan dia membeli sisir itu untuk menggaruk kepalanya yang ketombean.”

Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. B :

“Berapa banyak yang sudah anda jual?”

Mr. B menjawab : “SEPULUH buah.”

“Saya pergi ke sebuah wihara dan memperhatikan banyak peziarah yang rambutnya acak-acakan karena angin kencang yang bertiup di luar wihara. Biksu di dalam wihara itu mendengar saran saya dan membeli 10 sisir untuk para peziarah agar mereka menunjukkan rasa hormat pada patung Sang Buddha.”

Kemudian, Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. C :

“Bagaimana dengan anda?”

Mr. B menjawab: “SERIBU buah!”

Si pewawancara dan dua orang pelamar yang lain terheran-heran.

Si pewawancara bertanya : “Bagaimana anda bisa melakukan hal itu?”

Mr. C menjawab:

“Saya pergi ke sebuah wihara terkenal. Setelah melakukan pengamatan beberapa hari, saya menemukan bahwa banyak turis yang datang berkunjung ke sana. Kemudian saya berkata pada biksu pimpinan wihara, ‘Sifu, saya melihat banyak peziarah yang datang ke sini. Jika sifu bisa memberi mereka sebuah
cindera mata, maka itu akan lebih menggembirakan hati mereka.’ Saya bilang padanya bahwa saya punya banyak sisir dan memintanya untuk membubuhkan tanda tangan pada setiap sisir sebagai sebuah hadiah bagi para peziarah di wihara itu. Biksu pimpinan wihara itu sangat senang dan langsung memesan
1,000 buah sisir!”

MORAL DARI CERITA

Universitas Harvard telah melakukan riset, dengan hasil :

1) 85% kesuskesan itu adalah karena SIKAP dan 15% adalah karena kemampuan.

2) SIKAP itu lebih penting dari kepandaian, keahlian khusus dan keberuntungan.

Dengan kata lain, pengetahuan profesional hanya menyumbang 15% dari sebuah kesuksesan seseorang dan 85% adalah pemberdayaan diri, hubungan sosial dan adaptasi. Kesuksesan dan kegagalan bergantung pada bagaimana sikap kita menghadapi masalah.

Dalai Lama biasa berkata : “Jika anda hanya punya sebuah pelayaran yang lancar dalam hidup, maka anda akan lemah. Lingkungan yang keras membantu untuk membentuk pribadi anda, sehingga anda memiliki nyali untuk menyelesaikan semua masalah.”

“Anda mungkin bertanya mengapa kita selalu berpegah teguh pada harapan. Ini karena harapan adalah : hal yang membuat kita bisa terus melangkah dengan mantap, berdiri teguh – dimana pengharapan hanyalah sebuah awal. Sedangkan segala sesuatu yang tidak diharapkan …. adalah hal yang akan mengubah hidup kita.” Meredith Grey, Grey’s Anatomy – Season 3

Ingatlah, saat keadaan ekonomi baik, banyak orang jatuh bangkrut. Tapi saat keadaan ekonomi buruk, banyak jutawan baru baru yang bermunculan. Jadi, dengan sepenuh hati terapkanlah SIKAP kerja yang benar 85%.

semangattttt

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Oktober 2013 inci Renungan

 

Saat Aku Disakiti


 

Apa yang Anda lakukan bila ada seseorang menyakiti hati Anda? Mungkin ada seseorang yang dengan sengaja menipu atau mengkhianati kita, menghancurkan karir kita,atau pun memfitnah kita.

 

Pasti ada rasa marah dan kecewa dengan apa yang orang-orang telah lakukan dalam hidup kita. Ada rasa tidak terima, dan ingin membela diri. Namun saat kita membela diri tidak pada saat yang tepat, apalagi ditambah dengan rasa emosi yang besar, maka yang terjadi bukan perdamaian atau pun penyelesaian masalah, melainkan terjadi pertengkaran.

 

Ada seorang nenek yang pagi itu baru saja dibentak oleh cucunya. Nenek itu hanya tersenyum dan berlalu/tidak melawan sang cucu meskipun usianya lebih tua dari cucunya tersebut.

 

Lalu ada seseorang yang bertanya, “Nek, kenapa kau tak memarahi cucumu? Bukankah nenek lebih tua dan berhak untuk marah?”

 

Nenek pun menjawab, “Saat sifat seseorang tidak bisa diubah dengan perkataan, dan saat orang terdekat itu melukai hatiku setiap hari, maka aku akan berdoa untuknya.”

 

Tuhanlah pemilik hati setiap manusia. Hati manusia akan mengeras saat mereka jauh dari Tuhan dan kasih pun hilang dari kehidupan mereka. Doa dengan hancur hati kepada Tuhan, sangat besar kuasanya. Sama seperti batu yang setiap hari terkena tetesan air, maka suatu saat akan berlubang karena terkikis.

 

Sama halnya dengan doa. Saat apa yang kita lakukan itu nihil dan tidak menghasilkan apa pun, maka berdoalah. Saat kita berdoa, maka kita tidak akan bekerja sendiri karena Allah turut bekerja dalam segala macam perkara kita.

 

Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati,

dan orang bebal dimatikan oleh iri hati. Ayub 5:2

 

www.renunganhariankristen.net

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Oktober 2013 inci Renungan

 

Ketenangan


 

Ada pepatah mengatakan bahwa “air tenang menghanyutkan”. Mari kita lihat tentang air di tengah lautan. Ombak besar kerap kita jumpai di bibir pantai namun sangat jarang kita melihat ombak itu di tengah lautan. Semakin tenang air di tengah lautan, itu pertanda bahwa kedalaman laut lebih dalam dari yang kita perkirakan.

 

Banyak orang yang meledak emosinya ketika baru tersulut oleh masalah yang kecil. Banyak orang yang tidak terima akan perlakuan orang lain terhadap dirinya. Mereka akan lebih memilih untuk mencari kepuasan dengan jalan membalas dendam.

 

Jadilah seperti air yang tenang, yang memiliki kesabaran sedalam dan seluas samudera. Saat seseorang menyulutkan masalah dalam kehidupan kita jadilah seperti air yang mampu menyejukkan hati. Air mampu memadamkan api, demikian juga ketenangan mampu meredakan segala macam amarah yang ada di dalam setiap hati.

 

Tuhan menciptakan kita lengkap dengan hati yang panjang sabar dan penuh kasih. orang yang tenang dalam menyikapi setiap masalah yang ada bukan berarti bahwa kita menyerah terhadap situasi yang ada. Namun dengan ketenangan, maka sesungguhnya kita percaya bahwa segala sesuatu ada jalan keluar dan berkat yang indah yang Tuhan persiapkan dalam kehidupan kita.

 

Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah

dan usaha menjaring angin. Pengkhotbah 4:6

 

www.renunganhariankristen.net

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Oktober 2013 inci Renungan

 

Kebodohan vs Kebijaksanaan


Kebodohan vs Kebijaksanaan

Oleh Ev. Sudiana

Saya membaca koran, yaitu koran minggu pagi, dikolom yang berjudul, “Believe It Or Not (Percaya atau Tidak)”. Kolom yang berjudul “Believe It Or Not” ini berisi tentang hal-hal yang aneh dan luar biasa.

Salah satu bagiannya bercerita tentang Charles Boaz yang bekerja sebagai badut.

Apa sih yang luar biasa menjadi seorang badut?

Seorang badut hadir hanya untuk memberikan hiburan, membuat kelucuan, melawak, setidaknya untuk membantu melonggarkan stress dalam hidup orang lain. Karena belum tentu Si Badut sendiri bahagia “ada kesaksian seorang pelawak – dia menghibur, tapi dirinya sendirinya kesepian.” Sepertinya Si Badut bukanlah orang yang bijak – tapi melakukan kebodohan.

Kita pasti memandang Si Badut sebagai orang bodoh; faktanya badut yang satu ini, Charles Boaz, adalah seorang Doktor. Umumnya, orang menilai mereka yang bergelar Doktor sebagai orang yang memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi. Dan lebih dari itu, bahwa Dr. Boaz ini adalah seorang asisten profesor bidang ekonomi di State University of Michigan, dan bahwa dia telah mengundurkan diri dari pekerjaannya itu untuk bekerja sebagai badut. Aneh bukan!

Jika Anda berhenti sejenak dan merenungkannya, di sini ada begitu banyak orang muda yang masih pelajar, dan mereka semua berjuang keras untuk bisa memperoleh ijazah sekolah SMA, lalu melanjutkan ke perguruan tinggi – agar bisa berhasil mencapai gelar sarjana S1, tidak cukup, melanjutkan lagi S2,

Setelah anda dapatkan semua , anda akan berpikir bahwa anda adalah orang yg cukup penting di dunia ini. Akan tetapi, kalau anda sampai di tingkatan S3 (Doktor), Anda akan berpikir bahwa Anda telah mencapai puncak! Namun di koran ini ada seseorang yang telah mencapai semua itu, dan memutuskan untuk menanggalkan semuanya untuk menjadi badut!

Mungkin kita akan berpikir – sungguh sangat tidak bijaksana.

 

Sejarah pekerjaan badut sudah ada sejak lama, khususnya pada masa kerajaan-kerajaan di Eropa di mana raja-rajanya menderita stress seperti yang dialami oleh orang-orang modern. Mereka membutuhkan pertunjukan badut saat mengakhiri atau mengawali hari-hari mereka, atau sewaktu-waktu jika stress yg dihadapi begitu berat, dan para badut akan membuat lawakan untuk melonggarkan stress raja mereka.

Pada zaman itu tidak ada TV atau telenovela, jadi yang Anda butuhkan adalah pertunjukan badut. Jadi sebenarnya, seorang badut menjalankan peranan yang penting. Akan tetapi hal itu semua sudah berlalu. Di zaman sekarang ini, para badut menghibur anak2 supaya orang tua mereka bisa berkurang stress-nya, dan para orang tua ini bisa keluyuran secara leluasa sambil menikmati es krimnya- saat acara pesta.

Tapi mari kita kembali ke pertanyaan ini, hal apa yang membuat seorang bijak –

 

seorang bergelar Doktor, yang menurut ukuran dunia adalah seorang bijak – ingin menjadi orang bodoh? Dapatkah Anda menempatkan diri Anda pada posisi org ini dan membayangkan dalam keadaan seperti apa Anda akan bersedia untuk mengesampingkan prestasi akademik Anda?

Tidaklah mudah menjadi seorang profesor atau asisten profesor lalu beralih berkelana ikut sirkus dan melawak seperti layaknya orang bodoh dengan kuda dan monyet2. Mungkinkah karena dia merasa bahwa hidup ini ternyata hanya sekadar sandiwara atau lawakan belaka, dan dia merasa bahwa lebih baik menjalaninya sebagai seorang badut sekalian?

Atau Bisa jadi dia, sebagai seorang manusia, adalah orang yang cukup cerdas untuk bisa memahami bahwa hidup ini adalah lawakan, jadi, jalani saja dengan bercanda. Mungkin yang menjadi masalah utama bagi umat manusia adalah lantaran kita ini tidak cukup cerdas untuk bisa memahami persoalan yang sebenarnya, tetapi juga tidak terlalu bodoh sehingga bisa mencapai akar permasalahannya.

Apa pemahaman anda dengan hidup ini?

Banyak diantara kita terjebak di dalam lingkaran kebodohan, lingkaran kesia-siaan, lingkaran tanpa tujuan. sehingga kita memandang hidup ini dengan main2 saja – bercanda2 – asal2 an,

Karena apa? ketidak mengertian arti hidup dan tujuan Tuhan menciptakan saudara. “Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Dr. Boaz memakainya utk mencapai pemecahan masalah tersebut.

Begitulah mentalitas banyak prajurit yang sedang berada di lubang2 pertahanan; mereka melakukan hal2 yang bodoh. Marilah kita makan, minum, kawin dan bersenang2, sebab besok kita mati. Jadi mengapa kita tidak bercanda-ria malam ini?Bersenang-senanglah, untuk satu malam saja, mari kita tertawa, sebab besok kita mati. Begitulah mentalitas banyak prajurit sebelum menghadapi peperangan besar, mereka tahu bahwa di saat yg sama pada esok hari nanti, sebagian besar dari mereka  akan mati; atau mereka semua akan mati.

Ini adalah malam terakhir mereka, jadi bukalah botol bir atau minuman apapun itu, makanlah coklat terakhirmu, nikmatilah saat-saat ini, tertawalah, nikmatilah saat-saat terakhir ini, sebab besok kita semua mati.

Tetapi kenyataan tidak selalu seperti pemikiran prajurit-prajurit bodoh itu; ada banyak negara-negara yang akhirnya berdamai, tidak terjadi perang lagi. Ada banyak yang hidup , punya pengharapan bertemu keluarga. Ada banyak perajurit keluar dari kamp musuh dan menjadi orang-orang yang hebat akhirnya.

Artinya hidup ini tidak harus kita akhiri dengan cara yang sia-sia atau yang di sebut kebodohan, karena dalam hidup kita ada Tuhan yang selalu merancangkan hidup kita dengan banyak kebaikan-kebaikan. Seorang rasul besar – Paulus mengatakan efs 5 “jangan kita melakukan hal-hal yang kelihatan sepele yang akhirnya menjerumuskan kita pada kebodohan-kebodohan”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Oktober 2013 inci Renungan

 

Mengikis Karakter


Oleh : Ev. Sudiana

Suatu hari ada pertandingan memahat di sebuah batu marmer yang keras dan ukurannya yang lonjong. Semua pemahat gagal, cuma Michael Angelo yang menyatakan ia sanggup memahat batu marmer tersebut. Siang dan malam Michael Angelo memahat dan mengerjakan batu marmer tersebut dan jadilah sebuah patung Raja Daud yang indah sekali. Dan waktu seorang wartawan mewawancarainya , “Bagaimana Anda dapat memahat seindah ini?” Jawab Michael angelo ; “Saya tdk membuat patung Raja Daud, tapi dari semula patung Raja Daud yang indah itu sudah ada, saya cuma membersihkan sisa-sisa batu yang menutupi patung itu untuk mengeluarkan sosok Raja Daud dari batu marmer tersebut.

Di dalam setiap pribadi kita mempunyai HATI YANG BAIK, tapi kadang DI TUTUPI OLEH KARAKTER atau KEBIASAAN YANG KURANG BAIK – kebiasaan yang buruk, berkata kasar, cepat emosi , dan lain sebagainya. Untuk itu setiap NASEHAT dan TEGURAN dari orang tua, dari pasangan, rekan kerja kita, atasan kita atau pembimbing rohani kita, Jangan dianggap SUATU SERANGAN YANG NEGATIF, tapi sebuah pahatan yang mengikis karakter2 yang jelek, yang buruk, yang tidak diperlukan. Sehingga kita dapat menjadi pribadi yang menyenangkan dan disukai banyak orang dan disukai Tuhan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Oktober 2013 inci Renungan