RSS

“NASIB” DALAM PERSPEKTIF KRISTEN


‘Nasib’ Ada atau Tidak?

Apakah nasib itu ada? Atau tidak? Pertanyaan ini sebenarnya amat mirip dengan pertanyaan: hokie atau luck atau keberuntungan itu ada apa kagak sih? Pertanyaan yang sungguh menarik bukan?

Jawaban terhadap pertanyaan ini tergantung dari definisi dari kata “nasib” itu sendiri.  Jika yang kita maksudkan dengan ‘nasib’ ini adalah apa yang terjadi di dalam hidup kita ini tidak sepenuhnya (100%) ada di tangan kita, maka jawaban kita terhadap pertanyaan tersebut di atas seharusnya positif. Dengan kata lain kita sebagai orang percaya harus mengatakan, “’ya’ nasib itu memang ada. Kita tidak pernah memilih jadi laki-laki atau perempuan khan? Kita tidak pernah memilihi jadi orang China bukan? Kita tidak pernah memilih untuk dilahirkan pada abad XX khan?  Kita tidak pernah memilih untuk mengalami kerusuhan Mei 1998 khan? Hal-hal tersebut khan terjadi di luar kendali kita. Hal-hal tersebutterjadi karena ijin dari Sang Maha Pencipta khan? Jadi boleh saja kita mengatakan bahwa ‘nasib’ itu ada. Yakobus malah mengatakan (Yak 4: 11-13), justru kalau kita merasa bahwa kita berkuasa penuh atas jalan hidup kita, kit a adalah orang-orang yang congkak dan salah.

          Tetapi, kalau kemudian nasib itu kita artikan sebagai kekuatan, yang membuat hidup manusia itu hanya seperti sabut kelapa di gelombang samudra, dipontang-pantingkan ke sana kemari, dihanyutkan tanpa daya entah kemana; atau bahwa hidup kita itus eperti bidak-bidak catur yang tak bias memilih apa-apa, kecuali menuruti langkah yang dibuat sang Grandmaster, maka apa jawab kita? Tentu saya kita harus berani mengatakan “TIDAK!”  Mengapa? Sejak awal Allah menciptakan manusia dengan kebebasan untuk memilih (free-will) – lihat Kej 2: 16-17. Mereka bukanlah “sabut kelapa” melainkan pribadi yang biasa mengambil keputusan. Adam dan Hawa bias berkata “Ya” atau “Tidak” kepada Allah. Mereka bebas! Mereka bisa menentukan ‘nasibnya’ sendiri. Allah tidak pernah menentukan (atau mentakdirkan) Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Merekalah yang memilih untuk berdosa!Jadi jangan salahkan Allah kalau kita celaka oleh karena keputusan diri kita sendiri.

          Ada yang memprotes begini, “Kalau Allah tahu bahwa “buah terlarang” itu akan mencelakakan manusia, kenapa buah itu diciptakan dan taruh di Taman Eden?” Mengapa Allah menciptakan pohon itu? Karena Tuhan mau memberi kebebasan kepada manusia! Sama juga bohong dong, kalau ada orang tua berkata kepada anaknya; “nak, kamu bebas deh ke mana aja,” tetapi tidak diberi pilihan, dikunci digudang rapat dengan tangan dan kakinya diikat kuat-kuta.  Ya memang selamat tapi tidak bebas.

Siapa yang Menjadi Penentu “nasib”: Allah atau Kita?

Beberapa ayat Alkitab memang memberi kesan bahwa Allah sudah menentukan segala sesuatu sebelumnya. Ada orang yang menyebut hal ini predestinasi. Amsal 22:2, sebagai misal, berkata, “Orang kaya dan orang miskin bertemu, yang membuat mereka semua adalah Tuhan.” Yeremia 1:5 punya nada yang serupa: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

Namun ada ayat-ayat yang secara jelas menunjukkan peran dari manusia sebagai penentu.  Roma 14: 12, sebagai misal berkata:  “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Logikanya,  jikalau manusia tidak punya kebebasan penuh untuk mengambil keputusan, maka Allah juga tidak berhak untuk meminta tanggung jawab manusia bukan?

Lalu bagaimana kita memahami hal yang sepertinya kontradiktif ini? Caranya gampang, jangan “pilih yang ini  atau yang itu”, ambil saja kedua-duanya sebagai suatu kesaksian yang sah.  Kita mengakui ada tempat bagi Kedaulatan Allah dan ada tempat pula bagi kebebasan manusia.  Allah turut menentukan tanpa harus menghancurkan kebebasan dan tanggung jawab manusia.

Bagaimana memahami bekerjanya dua hal tersebut secara serentak? Perkenankanlah saya menggunakan analogi berikut ini.  Kalau manusia itu dapat diibaratkan sebuah kertas, maka pada waktu kita lahir kertas itu datang kepada kita dalam bentuk seperti apa? Bagi para penganut “manusia sajalah yang menjadi penentunya” kertas itu digambarkan sebagai kertas putih, polos, kosong, tidak ada coretan apa pun dan kita mempunyai kebebasan yang sepenuhnya untuk menulis atau menggambar apa saja di kertas tersebut sesuai kehendak kita.

Bagi para penganut “Allah sajalah yang menjadi penentu, kertas yang kita peroleh itu adalah kertas yang sudah penuh, tidak dapat kita tulisi apa-apa lagi, isinya Cuma perintah yang sudah tidak bias dibantah: petunjukan jalan yang harus kita lalui, atau semacam daftar belanjaan, shopping list, apa yang harus kita beli? Kita harus menjalani apa yang sudah digariskan; kita tidak dapat mengubahnya.

Bagi para penganut “Allah dan Manusia sekaligus sebagai penentunya” kertas yang ada memang kertas kosong, tetapi tidak kosong sepenuhnya.  Ia seperti kertas ujian. Isinya adalah pertanyaan-pertanyaan. Dan kitalah yang harus menulis sendiri di atas kertas itu apa jawaban kita atas pertanyaan itu. Bebas! Anda boleh menulis apa saja yang ada di kertas itu. Tetapi Anda akan dinilai lulus atau tidak lulus berdasarkan jawaban yang Anda tulis.

Tetapi kalau anda mau lulus, apa yang anda tulis itu khan arahnya sudah ditentukan. Dan arah ini bukan anda yang menentukan, tetapi Allah. Misalnya anda diberi soal matematika, 2 + 2 = …. Jawaban anda tentu tidak boleh serampangan. Anda harus perhatikan rumus bukan? Dan rumus itu bukan anda yang membuat dan menentukan bukan? Anda bebas menjawab 2+2 =5, tapi sudah pasti anda tidak lulus.  Jikalau anda tidak lulus berhakkah anda menuntut guru saudara gara-gara jawaban 2 + 2 = 5? Tentu saja tidak!

Itu jawaban terhadap pertanyaan: “Siapa yang menjadi penentu?” Allah dan kita sama-sama menjadi factor penentu dalam hidup ini.  Salah satu tidak boleh dikorbankan demi mempertahankan yang satunya!

“Nasib” Bisakah diubah?

Sebagai seorang Kristen kita harus berani menjawabnya dengan tegas: bisa! Mungkin kita sendiri tidak bisa mengubahnya, tetapi Tuhan Yang Maha Kuasa dapat mengubahnya. Itulah sebabnya kita tidak boleh menjadi orang yang fatalis: menyerah pada nasib, seolah-olah nasib itu tak bisa berubah. Segala sesuatu bisa diubah dan berubah, terkecuali Allah.  Karakter-karakter Allah itu tetap dan tak mungkin berubah.  Dia adalah Allah yang adil, mahatahu, mahakuasa, dll.

Mungkin anda protes: Kalau Allah itu tidak berubah, kenapa Allah mengubah keputusan yang diucapkannya kepada Niniwe? Seharusnya khan dalam 40 hari Niniwe akan dijungkir balikkan. Kenapa ketika mereka bertobat, Allah menarik keputusannya kembali? Jawaban dari masalah ini tak terlalu rumit: ingat yang tidak bisa berubah adalah karakter Allah, bukan “keputusan Allah”.  Karakter Allah yang mahaadil dan mahakasihlah yang menyebabkan ultimatum kepada Niniwe itu dicabut, karena Niniwe telah bertobat.  Karakter Allah sebagai pribadi yang mahakasih dan mahaadil justru lebur andaikata Niniwe itu dihancurkan.

          Kebenaran bahwa Karakter Allah yang tidak pernah berubah inilah yang menjadikan kita “nyaman”.  Kita bersandar pada pribadi yang dapat dipercaya dan tidak “plin-plan” karakternya. Kebenaran bahwa Karakter Allah yang tidak pernah berubah inilah yang menjadikan kita menemukan “makna” di dalam doa dan perjuangan hidup kita dari hari ke hari.  Untuk apa berdoa dan berusaha kalau “keputusan-keputusan” Allah secara mutlak tidak mungkin diganggu gugat! Kita berani berdoa dan berusaha dengan sebaik-baiknya  karena kita tahu bahwa ada sesuatu mungkin bisa berubah.

– diadaptasi dan dikembangkan dari karya Eka Darmaputra –

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: