RSS

Kitab Wahyu


Kitab Wahyu

Oleh: Pelita H. Surbakti, S.T., M. Th.

 

Pendahuluan

Sebagai sebuah literatur, barangkali kitab ini adalah kitab yang paling rumit serta sangat kompleks. Namun bagi Marshall, walaupun ia merupakan literatur yang rumit, kitab ini telah menjadi inspirasi yang memberi kekuatan bagi berjuta-juta orang percaya oleh karena didalamnya terkandung sebuah realita dimana Allah pada akhirnya akan menyatakan kuasanya dan Dialah yang menjadi awal dan akhir (alfa dan omega) dari segala sesuatu.[1] Melalui kitab Wahyu kita melihat bahwa zaman ini ternyata berakhir pada satu titik tertentu dimana Yesus Kristus dan pengikut-Nya menjadi pemenang (Untuk melihat siapa yang berperan sebagai hakim diakhir zaman, lihat bagian akhir dari tujuh pembagian kitab ini). Sebagai perbandingan, gagasannya hampir mirip dengan gagasan yang termuat dalam kisah perumpamaan Tuhan Yesus tentang Lalang di antara Gandum (Mat. 13:24 dst.). Yang percaya akan bersukacita bersama sang Hakim Agung, sementara yang tidak percaya/jahat akan dihancurkan.[2]

Kitab Wahyu ini sendiri sering disebut sebagai kitab Apokaliptik dalam PB. Kata apokaliptik berasal dari bahasa Yunani: apokalypsis yang artinya membukakan/menyingkapkan. Jenis tulisan semacam ini sebenarnya telah ada sejak PL misalnya dalam dalam kitab para nabi (mis: Daniel 2, 7, 9-12; Yeh. 1, 37, 40). Genre tulisan apokaliptik ini juga muncul dalam tulisan-tulisan Yahudi pada masa antar perjanjian (1 Enoch, 4 Ezra, dll) hingga masa PB (Kitab Wahyu dan beberapa bagian dalam surat-surat Paulus). Namun penyingkapan yang termuat dalam kitab Wahyu dipandang sebagai klimaks dari nubuatan-nubuatan yang pernah tertulis tersebut.

 

Kitab Wahyu Sebagai Satu Sastra Apokaliptik Yahudi

Sebagaimana yang telah disingung di atas, bahwa tulisan-tulisan yang ber-genre apokaliptik memang telah muncul jauh sebelum kitab Wahyu dituliskan. Menelusuri kembali kapan sesunggunya genre ini mulai muncul dalam sastra Yahudi serta perkembangannya bukanlah tujuan kita kali ini. Namun yang menjadi tujuan tulisan ini adalah, jika genre ini memang telah muncul sejak era PL, maka konteks sosial Yahudi seperti apakah yang selalu melatarbelakangi munculnya tulisan-tulisan ber-genre apokaliptik ini?

Dua tulisan apokaliptik yang sangat kuat dalam alkitab adalah Daniel (2 SEK) dan Wahyu (1 EK). Kitab Daniel umumnya dihubungkan dengan raja Yunani Antiokhus IV (175 – 163 SEK). Didorong oleh keinginan untuk semakin mempertahankan keutuhan kerajaannya, Antiokhus semakin mendorong helenisasi disegala aspek kehidupan. Misalnya sesaat sebelum pelaksanaan suatu pertandingan olah raga, tidak jarang diawali oleh upacara penyembahan kepada dewa-dewa Yunani yang bagi orang Yahudi sangat dilarang. Penolakan penyembahan ini membuat Antiokhus pernah mengeluarkan suatu ketetapan (167 SEK) untuk melarang orang Yahudi menjalankan segala ketetapan Taurat. Antiokhus bahkan secara kejam menghukum orang Yahudi yang melanggar ketetapan itu. Ia juga merampas harta dan perlengkapan di Bait Allah. Sebelumnya Antiokhus juga telah mengintervensi pengangkatan Imam Besar, yakni dengan merestui orang-orang yang bisa dia jadikan ”boneka” yang meguntungkan dirinya. Puncak penghinaan serta penghukuman Antiokhus kepada orang Yahudi terjadi ketika sebuah altar dewa Zeus Olympus ditempatkan di atas altar Bait Allah dan disitu daging haram dipersembahkan sebagai sesajen (band. II Makabe 6:2; Daniel 11:31; 12:11).[3]

Konteks historis teks (Sitz im Leben) yang melatarbelakangi penulisan kitab Wahyu juga memiliki kesamaan dengan kitab Daniel (akan dibahas di bawah). Dengan kenyataan itu, ditambah dengan penelitian terhadap beberapa tulisan-tulisan apokaliptik baik yang ada dalam PL, Pseudepigrafa, Apokrifa, dan naskah-naskah Second Temple Judaism lainya, membuat para ahli umumnya menyimpulkan bahwa genre ini biasanya muncul ketika umat mengalami situasi yang hampir putus asa khususnya terkait dengan situasi sosial politik dan sejarah.[4] Kondisi yang sulit memaksa mereka untuk memandang kepada tatanan yang bersifat metafisis dan mistis. Hal ini membuat sastra ber-genre ini memuat bahasa-bahasa serta simbol-simbol yang sulit kita pahami – tentunya apabila dilihat dari cara berpikir kita pada konteks yang berbeda. Andre Lacocque menyimpulkan: ”penyebab adanya apokaliptik adalah keyakinan bahwa Allah mempunyai rencana untuk menyatukan sejarah manusia, satu rencana yang perlu ditemukan, sebab rencana ini merupakan rahasia jagat raya ini. Dengan cara ini, sejarah dibagi menjadi dua kutub: yang sekarang sedang berjalan dan yang terakhir; dan sejarah yang ditopang dalam kekekalan hikmat dan pengetahuan Allah. Itulah sebabnya mengapa Kerajaan Allah melampaui sejarah, tetapi dimasukkan ke dalam sejarah di dalam pemerintahan orang-orang kudus (band. Daniel 7).”[5] Genre apokaliptik merupakan sebuah ekspresi manusia pada eranya dalam memahami fakta sebuah sejarah dalam kaitannya dengan campur tangan serta rencana Allah.[6] Dengan demikian, tidak berlebihan jika sebagian ahli menyimpulkan genre ini sebagai sastra pengharapan disamping juga sebagai sastra untuk memperingatkan pembacanya. Dan kitab Wahyu adalah satu diantaranya.

 

Angka 7 dalam Kitab Wahyu

Mengingat peran angka tujuh begitu signifikan dalam kitab ini, maka pembahasan tentang angka ini sengaja kita bahas dibagian awal tulisan ini. Dalam kitab Wahyu angka 7 (tujuh/epta) muncul secara sangat menonjol (± 54 kali). Jumlah tersebut belum termasuk yang muncul secara implisit, misalnya: “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” (5:12), “Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!” (7:12). Selain itu dalam kitab ini juga muncul kata berbahagia (Maka,rioj/Makarioi) sebanyak 7 kali: 1:3; 14:13; 16:15; 19:9; 20:6; 22:7; 22:14.

Angka ini memiliki pengertian tersendiri. Dalam Yehezkiel 25-32, angka ini juga muncul yakni ”tujuh bangsa”. Bagi orang-orang Yahudi, angka ini memiliki makna yang terkait dengan kesempurnaan, keutuhan, totalitas, kegenapan, dll. Dengan makna tersebut, maka angka ini sering dikaitkan dengan Allah atau karya-Nya.

 

Penulis

Teks ini sendiri menyatakan bahwa penulisnya adalah Yohanes hamba Allah (1:1, 4, 9; 22:8), dia juga menyebut dirinya sebagai saudara dari para pembacanya (1:9). Walaupun dia tidak menyebut dirinya sebagai nabi, namun tampaknya dia bisa saja merupakan bagian dari kelompok nabi Kristen (22:6-9) dan tampaknya cukup dikenal oleh sejumlah jemaat di Propinsi Asia Kecil. Sebagai nabi, dia bernubuat atau menyampaikan berita dari Allah (10:11), dan kitab ini memang memuat nubuatan (22:7, 10, 19). Secara tradisional, gereja menyimpulkan bahwa penulis kitab ini adalah Yohanes sang Rasul, yang juga adalah penulis Injil Yohanes serta 3 surat-surat Yohanes.

Namun demikian, jika diperhatikan 1:1 secara keseluruhan, tampaknya Allah sendirilah yang menjadi pengarang utama kitab ini “Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya.” Karena itu, benarlah pendapat yang mengatakan bahwa apa yang dinubuatkan dalam kitab ini sama sekali bukan hasil imajinasi dan meditasi manusia (Yohanes), tapi adalah penyataan Allah tentang gereja-Nya.[7] Menurut Wahyu 1:1b, Yohanes adalah orang yang memperoleh penyataan Allah kepada Yesus Kristus itu dan menuliskannya ke dalam bahasa manusia: “Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya, Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes.”

Penulis PB seperti Paulus (dan timnya) juga memperkenalkan dirinya sebagai orang yang memperoleh wahyu dari Allah (band. 1 Kor 4:1). Dalam hal ini Paulus memang tidak menyebutnya sebagai ”wahyu” tapi ”rahasia” Allah, namun menurut para ahli gagasan yang termuat dalam kedua terminologi ini tampaknya sama.[8]

 

Tahun Penulisan

Kitab ini memuat isu penganiayaan yang cukup menonjol (lebih jauh akan dibahas pada bagian ”kondisi penerima” dan ”tujuan penulisan”). Berdasarkan isu penganiayaan yang muncul dalam kitab ini, umumnya ada dua pendapat tentang pada era siapa penganiayaan tersebut terjadi, yakni era Kaisar Nero (54-68) atau era Domitian (81-96). Kitab ini juga memuat indikasi bahwa jemaat-jemaat ini bukanlah generasi pertama (lebih jauh akan diuraikan dalam bagian ”kondisi penerima” di bawah). Karena jemaat ini bukankah jemaat generasi pertama, maka tampaknya era domitian lebih bisa diterima yakni sekitar 95 EK, yakni pada tahun-tahun terakhir era Domitian. Selain itu, issu ketidakbertumbuhan gereja (suam-suam kuku) dalam kitab ini juga kurang cocok dengan kondisi gereja pada era generasi-generasi yang palin awal, termasuk era Nero.

Jika kita sependapat dengan banyak ahli yang menyimpulkan bahwa kitab ini ditulis pada era kaisar Domitian, maka memang diakhir abad pertama, gelombang penganiayaan kepada orang percaya sangat kuat. Para martir bergelimpangan begitu banyak. Penyembahan kepada Kaisar menjadi salah satu alasan kuat bagi tindakan penganiayaan ini (lihat pada bagian ”kondisi penerima” di bawah). Banyak guru dan ajaran sesat juga menyusahkan gereja Yesus Kristus (2:2, 14, 20, 24).

Penerima

Tiga pasal pertama kitab ini (baca: 1:4) menunjukkan bahwa kitab ini ditujukan kepada tujuh jemaat di Propinsi Asia (Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelpfia dan Laodikia). Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kitab ini hanya ditujukan kepada jemaat-jemaat di kota-kota tersebut di atas? Apakah ada penafsiran lain mengingat kota-kota tersebut berjumlah 7 buah?

Dalam penjelasan tentang angaka 7 di atas, kita akan melihat bahwa angka ini merujuk kepada sebuah arti kesempurnaan atau keutuhan atau kegenapan. Beranjak dari makna angka tersebut, sebagian besar ahli menyimpulkan bahwa penerima kitab ini adalah keseluruhan gereja Tuhan Yesus Kristus disegala tempat dan segala abad.[9] Sementara itu, Bratcher dan Hatton mengatakan bahwa kitab ini ditujukan kepada semua orang kristen pada waktu itu, atau setidak-tidaknya kepada semua orang kristen di propinsi Asia pada saat itu.[10] Sebagian ahli menolak untuk menyimpulkan bahwa nubuatan yang ada dalam kitab ini, secara langsung, juga merujuk kepada gereja disegala masa – selain bagi semua gereja (Asia) di akhir abad pertama.[11] Salah satu ayat yang sering dijadikan acuan untuk kesimpulan ini adalah 1:19 ”Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.”

Ketujuh jemaat ini adalah sebagai perwakilan, yang sempurna, dari pembacanya. Carson dan Moo menyebutkan bahwa ketujuh kota ini merupakan pusat informasi. Sehingga alasan pengambilan ketujuh kota ini lebih kepada alasan geografis dan komunikasi.[12] Memang kalau kita lihat posisi kota-kota tersebut, tampaknya memang berada di daerah dimana gerakan penginjilan mula-mula berkembang. Daerah ini tampaknya menjadi daerah yang selalu dilalui oleh para misionaris mula-mula baik ketika bermisi dari sebelah Barat ke sebelah Timur maupun sebaliknya. Rasul Paulus sendiri menjadikan Efesus menjadi salah satu pusat misinya, termasuk ketika dia harus ke Barat atau ke Timur. Karena itulah kitab ini dapat kita katakan sebagai kitab edaran yang diharapkan bisa dibacakan dijemaat-jemaat Asia. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa ketujuh jemaat ini mewakili gereja-gereja pada periode tertentu yang bersifat kronologis. Henderiksen menentang pendapat ini dengan merujuk kepada beberapa ahli seperti: W. Milligan, E. H. Plumptre, W. M. Ramsey, R. C. Trench, C. F. Wishart.[13] Secara implisist hal ini muncul dalam pembagian kitab Wahyu yang terbagi menjadi 7 bagian di atas.

Dari gambaran kondisi jemaat yang terlihat dalam kitab ini, khususnya tujuh jemaat di Asia itu, tampaknya mereka ini bukanlah Kristen generasi pertama. Permasalahan yang muncul dalam jemaat-jemaat ini, khususnya terlihat lebih jelas dalam empat jemaat terakhir, tidak mengindikasikan bahwa mereka baru percaya. Gambaran dalam kitab ini lebih memperlihatkan sebuah situasi dimana iman mereka mengalami tekanan bahkan kemunduran. Misalnya ketika kita membandingkan kondisi jemaat Efesus baik melalui surat Paulus maupun Kisah Rasul dengan gambaran dalam Why 2:1-7, sungguh terlihat issu yang berbeda. Musuh mereka terutama bukanlah kelompok Yudaisme, sebagai mana selalu muncul dalam jemaat-jemaat Paulus yang adalah Kristen generasi pertama atau bahkan kedua (misalnya issu yang terdapat dalam kitab Galatia), namun terutama lebih terkait dengan tekanan dunia kafir serta degradasi moral.

 

Kondisi Penerima

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, bahwa nuansa tentang penderitaan dalam berbagai bentuk sangat kuat dalam kitab ini. Kita bisa menangkap nuansa tersebut misalnya: melalui cara penulis yang mengambarkan bahwa darah pembaca kitab ini sedang dicurahkan (6:10; 7:14; 16:6; 17:6; 19:2), sebagian sedang menantikan kematiannya dalam penjara yang pengap dan gelap (2:10), terancam mati kelaparan atau kehausan (6:8; 7:16), sebagian telah dilemparkan untuk dimangsa binatang buas (6:8), banyak diantara mereka telah dipenggal kepalanya (20:4), Antipas di Pergamus telah dibunuh (2:13), Yohanes telah dibuang ke Patmos (1:9).

Pulau Patmos sendiri adalah pulau yang berbatu dan tidak rata dan berada disebelah Tenggara kota Efesus. Pada era Romawi, pulau ini dijadikan sebagai salah satu tempat pembuangan bagi orang-orang yang dianggap bersalah.[14] Seperti yang tercatat dalam kitab ini, penolakan terhadap penyembahan kepada Kaisar tampaknya menjadi salah satu penyebab penindasan kepada jemaat-jemaat dan Yohanes (baca 13:4-7, 15-16; 14:9-11; 15:2; 16:2; 19:20; 20:4). Pada era Kaisar Domitian ada bukti kuat yang mengatakan bahwa pada kepemimpinannya Domitian menegaskan keilahian dirinya. Dia mengklaim dirinya sebagai dominus et deus (lord and god).[15] Domitian tampaknya menuntut penyebahan kepada dirinya sebagai wujud kesetiaan orang kepada dirinya. Dengan demikian, siapa saja yang tidak mau menyembahnya bebrarti tidak setia kepadanya dan dianggap musuh.

Kondisi ini mengisyaratkan bahwa penganiayaan kepada orang percaya tampaknya akan terus semakin berat dan semakin buruk. Hal ini misalnya bisa kita lihat bagaimana sejarah gereja mencatat kisah para martir di abad kedua dan seterusnya. Dan pemerintahan Romawi tampaknya berada dibalik sebagian besar penganiayaan itu.

 

Tujuan Penulisan

Sebagian ahli berpendapat bahwa 3:15-16 adalah kunci untuk memahami isu utama kitab ini, yakni berkaitan dengan istilah: panas, dingin dan suam-suam kuku. Ungkapan ”tidak dingin dan tidak panas” dalam dua ayat di atas diulang sampai 3 kali, yang tentu saja menunjukkan sebuah keseriusan kondisi tersebut. Suam-suam kuku adalah gambaran sikap jemaat yang menjadi penerima kitab ini. Karena kitab ini sebenarnya memuat unsur penyingkapan dan juga bersifat nubuatan,[16] maka sikap tersebut tampaknya telah menjadi realita dalam jemaat dan akan menjadi realita – barang kali akan menjadi realita disepanjang masa. Sikap ini terkait dengan kehidupan rohani dan kehidupan kekristenan yang tidak efektif bahkan tidak berguna. Keseriusan kondisi ini terlihat dari sikap Allah yang digambarkan dengan menggunakan kata ”memuntahkan” dalam ayat 16. Kata memuntahkan ini menggambarkan sikap Allah yang benar-benar tidak suka atau bahkan muak terhadap kerohanian yang semacam itu. Barangkali kondisi kehidupan yang semacam itu sama dengan ”garam yang tidak lagi asin” (Mat. 5:13).

Sikap jemaat yang sedemikian rupa sangat mungkin disebabkan oleh gelombang penganiayaan serta ajaran sesat yang sedang dan akan mereka hadapi. Dengan gambaran penerima yang sedemikian rupa tersebut, maka penulis kitab ini merasa sangat berkepentingan untuk menanggapinya. Karena itu tidak berlebihan bila kita menyimpulkan bahwa gagasan yang ada di balik penulisan kitab ini adalah penguatan/penghiburan sekaligus juga sebagai peringatan untuk antisipasi.

Gagasan itu terlihat melalui ayat-ayat berikut, misalnya: mereka yang setia akan ikut memerintah dan duduk bersama Dia di atas tahta-Nya (3:21), Allah akan menghapus air mata mereka (7:17; 21:4), Allah akan mendengarkan doa-doa mereka dan jawaban doa mereka akan mempengaruhi jalannya sejarah (8:3-4), orang-orang yang mati di dalam Tuhan disebut berbahagia dan perbuatan baik mereka tidak akan dilupakan (14:13), darah kaum martir akan dibalaskan (19:2), orang-orang kudus akan memakai jubah putih dalam pernikahan Anak Domba (19:7-9) dan mereka akan memerintah bersama Kristus untuk selama-lamanya (5:10; 22:5).

Dalam mengusung gagasan di atas, hal lain yang ditekankan adalah, bahwa Allah yang mereka sembah adalah Allah yang kekal. Dia adalah Alfa dan Omega, yang awal dan yang akhir. Dia adalah yang dahulu, sekarang dan yang akan datang (band. 1:4; 1:8; 4:8; 11:17; 16:5). Kedua huruf ini (A-W) melambangkan kekekalan dan kekuasaan Allah (band. 21:6; gagasan yang sama tentang Allah juga muncul dalam Yes. 41:4; 44:6). Pada ayat pada 22:13 kata ini dikenakan kepada Kristus, dengan gambaran tersebut, Yohanes tampaknya hendak mengakhiri segala polemik tentang pribadi yang selama ini menjadi misteri baik dalam filsafat maupun dalam spiritual. Dialah pribadi itu, yang akan mengakhiri segala sesuatu dengan sebuah ciptaan baru (Wahyu 21). Namun selain terkait dengan upaya agar jemaat bisa kuat dalam menghadapi ancaman fisik, kitab ini juga memuat tuntutan untuk memiliki nilai moral yang baik (band. 2:3-5).

Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa kitab ini merupakan kombinasi antara tuntutan spiritual dan tuntutan etik. Secara spiritual mereka diminta untuk tetap setia dalam situasi yang sangat sulit sekalipun. Pada saat yang sama, secara etik, mereka juga diminta untuk waspada terhadap kekuatan dan keinginan jahat yang terus menerus mendesak mereka kepada kehidupan moral yang tidak disukai Allah. Tuntutan ini menjadi sangat beralasan sebab Allah yang mereka percayai adalah Allah yang kekal (A-W), Allah yang menjadi hakim pada hari penghakiman.

 

Struktur

Marilah kita membaca dengan teliti ayat-ayat berikut ini: 1:7; 6:16-17 (7:16-17); 11:15-18; 14:14-20; 16:20-21; 19:11 dab. (20-21); 20:11 dab.). Gagasan apa yang termuat di dalam ayat-ayat tersebut? Ya, gagasan tentang hari penghakiman. Jika menghitung kelompok ayat-ayat di atas, maka jumlahnya ada 7 buah. Berdasarkan ketujuh kelompok ayat tersebut, para ahli umumnya sepakat untuk membagi kitab Wahyu menjadi tujuh bagian.[17] Pertanyaannya adalah, apakah kesimpulan diatas tidak terlalu subjektif?

Dengan keunikan angka 7, akhirnya banyak ahli berpendapat bahwa pembagian kitab ini menjadi 7 bagian menjadi satu hal yang sangat masuk akal. Pembagian tersebut mengisyaratkan kesempurnaan/kegenapan kitab ini yang memang dikarang sendiri oleh Allah yang adalah pribadi sempurna. Ketujuh pembagian tersebut mewakili sebuah peristiwa yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Mengenai pembagian yang sedemikian rupa, Hendriksen tampaknya sependapat dengan beberapa ahli lain, misalnya seperti: L. Berkhof, L. Morris, B. B. Warfeild. Pembagian lengkapnya adalah sbb:[18]

  1. Kristus di tengah-tengah kaki dian dari emas (1-3)
  2. Gulungan kitab dengan tujuh meterai (4-7)
  3. Tujuh sangkakala penghukuman (8-11)
  4. Perempuan dan Anak laki-laki dianiaya oleh naga dan para pembantunya (binatang dan pelacur) (12-14)
  5. Tujuh cawan murka (15-16)
  6. Jatuhnya pelacur besar dan kedua binatang (17-19)
  7. Penghukuman atas naga (iblis) yang diikuti oleh penciptaan langit baru dan bumi yang baru (20-22)

 

Dengan cara yang hampir sama, Kistemaker mengusulkan pembagian kita Wahyu sbb:[19]

  1. Introduksi (1:1-8)
  2. Penglihatan 1: Jemaat di Bumi (1:9-3:22)
  3. Penglihatan 2: Tahta Allah dan Tujuh Meterai (4:1-8:1)
  4. Penglihatan 3: Tujuh Sangkakala (8:2-11:19)
  5. Penglihatan 4: Aspek-aspek Peperangan dan Keselamatan (12:1-14:20)
  6. Penglihatan 5: Tujuh Cawan Penghakiman (15:1-16:21)
  7. Penglihatan 6: Kemenangan Kristus (17:1-19:21)
  8. Penglihatan 7: Langit Baru dan Bumi Baru ((20:1-22:5)
  9. Penutup (22:6-21)

 

Kita akan masuk lebih dalam kepada pembahasan ini dengan mengambil batu pijakan bahwa kitab ini dibagi menjadi tujuh bagian yang mewakili sebuah kisah dengan simbol-simbol yang termuat didalamnya. Pertanyaannya adalah, apakah ketujuh peristiwa itu bersifat kronologis dan merujuk kepada sebuah dimensi ruang atau justru bersifat simultan dan sama sekali tidak terkait dengan sebuah dimensi ruang? Di dalam memahami simbol-simbol yang seringkali membingungkan itu, kita harus hati-hati sebab ada simbol yang merujuk kepada satu peristiwa tertentu dan pada waktu tertentu, namun ada pula yang tidak merujuk kepada satu peristiwa dan masa tertentu.

Simbol-simbol yang merujuk kepada satu peristiwa tertentu dan pada waktu tertentu misalnya adalah: kisah tentang penuaian (14:14-20) yang sulit untuk disangkal merujuk kepada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali yang menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Namun kisah-kisah dalam ketujuh peristiwa, sesuai dengan pembagian kitab ini, yang memuat simbol-simbol seperti misalnya: kaki dian, meterai, sangkakala, cawam, apakah merujuk kepada satu peristiwa tertentu dan pada waktu tertentu?

Kita akan mengambil contoh dari beberapa ayat yang tercantum di bagian awal kitab ini yakni 1:4b-5a dan 1:7. 1:4b-5a berbunyi: ”Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya, dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini.” Stukenbruck menafsirkan tiga oknum yang menjadi sumber kasih karunia umat yakni: Dia (Allah Bapa), tujuh Roh dan Yesus Kristus merujuk kepada Allah yang dulu, sekarang dan yang akan datang (God as the ”one who is and who was and who is to come).[20] Sementara 1:7 yang berbunyi: ”Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.” Ayat ini tampaknya cukup jelas merujuk kepada Yesus yang akan datang kedua kalinya (the one who is to come). Jadi dari kedua bagian ayat ini, kita mendapat sebuah gambaran bahwa peristiwa yang terdapat dalam bagian pertama kitab ini terbentang, paling tidak dari kedatangan Yesus yang pertama sampai kedatangan-Nya yang kedua. Hal yang memiliki kemiripan juga dilontarkan oleh Hendriksen, dimana dia mengatakan bahwa 1:5 merujuk kepeda kedatangan Yesus Kristus yang pertama kali (yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini) dan 1:7 merujuk kepada kedatangan Yesus yang kedua kali.[21]

Dengan demikian, peristiwa pada bagian pertama beserta simbol-simbol yang termuat didalamnya bukanlah satu peristiwa tertentu yang terjadi pada waktu tertentu, namun terbentang paling tidak dari kedatangan Yesus Kristus yang pertama hingga kedatangan-Nya yang kedua. Disamping itu, bukankah masing-masing peristiwa tersebut, sesuai dengan pembagian kitab Wahyu, diakhiri oleh issu yang terkait dengan hari penghakiman? (band: 1:7; 6:16-17 (7:16-17); 11:15-18; 14:14-20; 16:20-21; 19:11 dab. (20-21); 20:11 dab.). Jika rentangan waktu yang panjang serta tempat dimana peristiwa bagian pertama ini telah sedemikian rupa, maka kita pasti sudah bisa menduga bahwa ketujuh peristiwa yang dimaksud bukanlah kronologis tapi bisa saja bersifat simultan. Para penafsir umumnya menyimpulkan bahwa masing-masing peristiwa ini (tujuh peristiswa dan simbol-simbol yang termuat didalamnya) adalah peristiwa yang terbentang dari kedatangan Yesus Kristus yang pertama hingga kedatangan-Nya yang kedua yang tempatnya tidak bisa dipastikan. Misalnya peristiwa 8:8 “Lalu malaikat yang kedua meniup sangkakalanya dan ada sesuatu seperti gunung besar, yang menyala-nyala oleh api, dilemparkan ke dalam laut. Dan sepertiga dari laut itu menjadi darah,” tidak perlu kita tanyakan kapan dan dimana penyingkapan serta nubuatan ini akan terjadi. Peristiwa ini bisa terjadi kapan dan dimana saja dalam rentang waktu antara kedatangan Yesus Kristus yang pertama hingga kedatangan-Nya yang kedua.

Namun disamping pembagian yang lebih spesifik di atas, dari issu yang termuat didalamnya, kitab ini juga pernah diusulkan untuk dibagi menjadi dua bagian besar, yakni: 1-11 dan 12-22. Bagian pertama memuat pergumulan diantara manusia yakni antara orang-orang beriman dengan mereka yang tidak beriman. Sementara bagian kedua memuat pergumulan yang berada di balik pergumulan pertama yakni antara Allah dan Iblis yang termanifestasi kedalam pergolakan diantara manusia.

 

Arti Angka

Selain angka 7, masih ada beberapa angka lain yang muncul dalam kitab Wahyu. Angka yang cukup sering muncul adalah sepuluh (Yun: deka) yakni sebanyak 9 kali. (baca. 2:10; 12:3; 13:1*; 17:3, 7, 12*, 16). Jika kita membaca kesembilan ayat di atas, maka angka sepuluh selalu terkait dengan setan dan pekerjaannya. Sementara angka dua belas juga cukup sering muncul dan selalu dikaitkan dengan orang pilihan Allah. Besar kemungkinan berakar dari 12 suku-suku Israel (baca. 7:5-6; 12:1; 21:12; 21:14; 21:16; 22:2, dll.). Istilah tua-tua (Yun: presbuteroi/presbuterouj/presbuterwn) juga muncul dua belas kali. Dengan demikian, dalam kitab Wahyu, angka dua belas melukiskan orang-orang pilihan Allah, sementara angka sepuluh melukiskan Setan dan pengikutnya serta aktifitas mereka. Jika tujuh adalah angka sempurna yang terkait dengan Allah sendiri, maka angka enam adalah angka setan yang gagal mencapai kesempurnaan.

 

Makna Simbol

Kitab Wahyu memuat banyak simbol-simbol yang sangat membingungkan kita. Simbol-simbol tersebut ada yang berupa angka, peristiwa, warna, dll. Sebagaimana sebuah simbol, tentu saja dia mewakili sebuah gagasan atau makna. Namun simbol-simbol yang membingungkan ini membuat kita bertanya: ”Bukankah penyingkapan bertujuan untuk membuat segala sesuatunya menjadi tersingkap (menjadi jelas)? lalu mengapa justru simbol-simbol ini bukan membuat makin jelas tetapi justru menjadi semakin tidak jelas?

Para ahli menyimpulkan bahwa orang Ibrani dan kebiasaannya cenderung berfikir secara kongkrit bukan abstrak. Karena itu dalam tulisan-tulisan orang Ibrani, termasuk PL, selalu ada upaya personifikasi (Amsal 7:4; 8:1, dll.) atau justru memakai simbol-simbol untuk merujuk kepada satu entitas tertentu (Mazmur 18:3, 8, dll.). Pertanyaannya adalah, mengapa bahasa simbol ini kerap digunakan, termasuk dalam tradisi orang Ibrani? Apakah semata-mata karena orang Ibrani cenderung untuk berfikir secara kongkrit?

Ternyata berdasarkan konteks historis teks, paling tidak, ada dua alasan penggunaan bahasa simbol ini yakni: demi kejelasan pesan dan demi keamanan penyebaran pesan yang disampaikan melalui simbol-simbol tersebut. Tampaknya kedua alasan di atas menjadi alasan penggunaan simbol-simbol dalam kitab Wahyu ini.

Deskripsi Anak Manusia dalam 1:13-16 tampaknya bertujuan untuk mendukung kejelasan pesan yang akan disampaikan. Hal ini barangkali terkait dengan kecenderungan orang Ibrani untuk berfikir secara kongkrit. Namun ada juga yang menafsirkan bahwa deskripsi Anak Manusia tersebut merupakan sebuah upaya penulis untuk menstimulasi pembacanya akan sosok kaisar Domitian. Hal ini dilakukan penulis karena dalam kelanjutan kitab ini, penulis hendak memperlihatkan bahwa Yesus lebih berkuasa dari kaisar tersebut.

Sementara itu, simbol-simbol yang dipakai untuk merujuk kepada penguasa yang lalim, tampaknya adalah demi keamanan penyebaran pesan itu. Sebagaimana yang kita ketahui, pada saat penglihatan ini terjadi, Gereja Tuhan sedang mengalami penganiayaan yang sangat besar dibawah pemerintahan Romawi (band. Penggunaan kata Babel dalam 14:8 (juga 1 Ptr. 5:13)).


[1] Howard Marshall, Exploring the New Testament, Vol. 2 (London: SPCK, 2002), hal. 305.

[2] Band. Michael Wilcock, Revelation, 2nd edn. (England: IVP, 2009), hal. 22.

[3] D. S. Russell, Penyingkapan Ilahi (Jakarta: BPK GM, 1993), hal. 34.

[4] Band. Russell, Penyingkapan, hal. 30-31.

[5] Russell, Penyingkapan, hal. 33-34.

[6] Band. H. Conzelmann and A. Lindemann, Interpreting the New Testament (Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1988), hal. 31.

[7] Bandingkan William Hendriksen, Lebih Dari Pemenang (Terjemahan, Cet. 1, Surabaya: Momentum, 2007), hal.10.

[8] Bandingkan John J. Collins, The Apocalyptic Imagination (Grand Rapids: W. B. Eerdmands, 1998, 2nd edn.), hal. 264.

[9] Bandingkan Simon J. Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu (Terjemahan, cet.1., Surabaya: Momentum, 2009), hal. 56., Hendriksen, Lebih Dari Pemenang, hal. 4-5.

[10] Robert G. Bratcher dan Howard A. Hatton, Wahyu kepada Yohanes (Jakarta: LAI, 2000), hal. 16-17.

[11] Jacob P. D. Groen, Aku Datang Segera (Surabaya: Momentum, 2002), hal. 12., Bratcher dan Hatton, Wahyu, hal. 16-17.

[12] D. A. Carson and Douglas J. Moo, an Introduction to the New Testament (Grand Rapids: Zondervan, 2005, 2nd edn.), hal. 712.

[13] Lihat Hendriksen, Lebih Dari Pemenang, hal.11, n. 1.

[14] Carson and Moo, an Introduction, hal. 707.

[15] Carson and Moo, an Introduction, hal. 709.

[16] Bandingkan Collins, The Apocalyptic, hal. 269.

[17] Bandingkan Hendriksen, Lebih Dari Pemenang, hal. 11-18., Collins, The Apocalyptic, hal. 11-12.

[18] Hendriksen, Lebih Dari Pemenang, hal. 17-18.

[19] Kistemaker, Tafsiran, hal. 71-72.

[20] Loren T. Sruckenbruck, Revelation dalam James D. G. Dunn (ed.), Eerdmans Commentary on the Bible (Grand Rapids: Eerdmans, 2003), hal. 1537.

[21] Hendriksen, Lebih Dari Pemenang, hal. 11.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: