RSS

Kebodohan vs Kebijaksanaan

23 Okt

Kebodohan vs Kebijaksanaan

Oleh Ev. Sudiana

Saya membaca koran, yaitu koran minggu pagi, dikolom yang berjudul, “Believe It Or Not (Percaya atau Tidak)”. Kolom yang berjudul “Believe It Or Not” ini berisi tentang hal-hal yang aneh dan luar biasa.

Salah satu bagiannya bercerita tentang Charles Boaz yang bekerja sebagai badut.

Apa sih yang luar biasa menjadi seorang badut?

Seorang badut hadir hanya untuk memberikan hiburan, membuat kelucuan, melawak, setidaknya untuk membantu melonggarkan stress dalam hidup orang lain. Karena belum tentu Si Badut sendiri bahagia “ada kesaksian seorang pelawak – dia menghibur, tapi dirinya sendirinya kesepian.” Sepertinya Si Badut bukanlah orang yang bijak – tapi melakukan kebodohan.

Kita pasti memandang Si Badut sebagai orang bodoh; faktanya badut yang satu ini, Charles Boaz, adalah seorang Doktor. Umumnya, orang menilai mereka yang bergelar Doktor sebagai orang yang memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi. Dan lebih dari itu, bahwa Dr. Boaz ini adalah seorang asisten profesor bidang ekonomi di State University of Michigan, dan bahwa dia telah mengundurkan diri dari pekerjaannya itu untuk bekerja sebagai badut. Aneh bukan!

Jika Anda berhenti sejenak dan merenungkannya, di sini ada begitu banyak orang muda yang masih pelajar, dan mereka semua berjuang keras untuk bisa memperoleh ijazah sekolah SMA, lalu melanjutkan ke perguruan tinggi – agar bisa berhasil mencapai gelar sarjana S1, tidak cukup, melanjutkan lagi S2,

Setelah anda dapatkan semua , anda akan berpikir bahwa anda adalah orang yg cukup penting di dunia ini. Akan tetapi, kalau anda sampai di tingkatan S3 (Doktor), Anda akan berpikir bahwa Anda telah mencapai puncak! Namun di koran ini ada seseorang yang telah mencapai semua itu, dan memutuskan untuk menanggalkan semuanya untuk menjadi badut!

Mungkin kita akan berpikir – sungguh sangat tidak bijaksana.

 

Sejarah pekerjaan badut sudah ada sejak lama, khususnya pada masa kerajaan-kerajaan di Eropa di mana raja-rajanya menderita stress seperti yang dialami oleh orang-orang modern. Mereka membutuhkan pertunjukan badut saat mengakhiri atau mengawali hari-hari mereka, atau sewaktu-waktu jika stress yg dihadapi begitu berat, dan para badut akan membuat lawakan untuk melonggarkan stress raja mereka.

Pada zaman itu tidak ada TV atau telenovela, jadi yang Anda butuhkan adalah pertunjukan badut. Jadi sebenarnya, seorang badut menjalankan peranan yang penting. Akan tetapi hal itu semua sudah berlalu. Di zaman sekarang ini, para badut menghibur anak2 supaya orang tua mereka bisa berkurang stress-nya, dan para orang tua ini bisa keluyuran secara leluasa sambil menikmati es krimnya- saat acara pesta.

Tapi mari kita kembali ke pertanyaan ini, hal apa yang membuat seorang bijak –

 

seorang bergelar Doktor, yang menurut ukuran dunia adalah seorang bijak – ingin menjadi orang bodoh? Dapatkah Anda menempatkan diri Anda pada posisi org ini dan membayangkan dalam keadaan seperti apa Anda akan bersedia untuk mengesampingkan prestasi akademik Anda?

Tidaklah mudah menjadi seorang profesor atau asisten profesor lalu beralih berkelana ikut sirkus dan melawak seperti layaknya orang bodoh dengan kuda dan monyet2. Mungkinkah karena dia merasa bahwa hidup ini ternyata hanya sekadar sandiwara atau lawakan belaka, dan dia merasa bahwa lebih baik menjalaninya sebagai seorang badut sekalian?

Atau Bisa jadi dia, sebagai seorang manusia, adalah orang yang cukup cerdas untuk bisa memahami bahwa hidup ini adalah lawakan, jadi, jalani saja dengan bercanda. Mungkin yang menjadi masalah utama bagi umat manusia adalah lantaran kita ini tidak cukup cerdas untuk bisa memahami persoalan yang sebenarnya, tetapi juga tidak terlalu bodoh sehingga bisa mencapai akar permasalahannya.

Apa pemahaman anda dengan hidup ini?

Banyak diantara kita terjebak di dalam lingkaran kebodohan, lingkaran kesia-siaan, lingkaran tanpa tujuan. sehingga kita memandang hidup ini dengan main2 saja – bercanda2 – asal2 an,

Karena apa? ketidak mengertian arti hidup dan tujuan Tuhan menciptakan saudara. “Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Dr. Boaz memakainya utk mencapai pemecahan masalah tersebut.

Begitulah mentalitas banyak prajurit yang sedang berada di lubang2 pertahanan; mereka melakukan hal2 yang bodoh. Marilah kita makan, minum, kawin dan bersenang2, sebab besok kita mati. Jadi mengapa kita tidak bercanda-ria malam ini?Bersenang-senanglah, untuk satu malam saja, mari kita tertawa, sebab besok kita mati. Begitulah mentalitas banyak prajurit sebelum menghadapi peperangan besar, mereka tahu bahwa di saat yg sama pada esok hari nanti, sebagian besar dari mereka  akan mati; atau mereka semua akan mati.

Ini adalah malam terakhir mereka, jadi bukalah botol bir atau minuman apapun itu, makanlah coklat terakhirmu, nikmatilah saat-saat ini, tertawalah, nikmatilah saat-saat terakhir ini, sebab besok kita semua mati.

Tetapi kenyataan tidak selalu seperti pemikiran prajurit-prajurit bodoh itu; ada banyak negara-negara yang akhirnya berdamai, tidak terjadi perang lagi. Ada banyak yang hidup , punya pengharapan bertemu keluarga. Ada banyak perajurit keluar dari kamp musuh dan menjadi orang-orang yang hebat akhirnya.

Artinya hidup ini tidak harus kita akhiri dengan cara yang sia-sia atau yang di sebut kebodohan, karena dalam hidup kita ada Tuhan yang selalu merancangkan hidup kita dengan banyak kebaikan-kebaikan. Seorang rasul besar – Paulus mengatakan efs 5 “jangan kita melakukan hal-hal yang kelihatan sepele yang akhirnya menjerumuskan kita pada kebodohan-kebodohan”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Oktober 2013 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: