RSS

Suami yang paling berperasaan.

11 Jun

Suami yang paling berperasaan.

Pengkhotbah 9:9

Tragedi gempa bumi yang terjadi pada tanggal 12 mei 2008 yang mengguncang Wenchuan, Tiongkok menyisakan satu kisah mengharukan.  Wu Jiafang, seorang pegawai restoran menemukan jenasah istrinya, shia Huaqing di belakang reruntuhan restoran dimana dia bekerja.  Tentu saja ini membuat air matanya tak terbendung lagi.  Namun dia tetap sabar menunggu bantuan datang untuk membawa pulang jenazah isterinya. 

Ternyata, setelah lama menunggu, bantuan tak kunjung tiba.  Wu Jiafang pun mengunakan tali kain merah untuk mengikatkan istrinya ke punggungnya.  Lalu, dia naik sepeda motor dengan perlahan membawa mayat istrinya kerumah yang berjarak empat kilometer.  “saat itu saya tidak berani menangis lagi karena takut mata kabur terjadikecelakaan sehingga dia akan menderita lagi,” katanya”.  Adegan ini mengharukan banyak orang dan dia disebut sebagai “suami yang paling berperasaan dalam gempa”.  Sesampainya di rumah, Wu Jiafang langsung menguburkan istrinya disamping rumahnya.  Dia kemudian membuat tenda menemani istrinya yang sudah meninggal.  Selama 100 hari masa berkabung itu dia hanya makan satu kali sehari.  “Shi Huaqing tidak pernah meninggalkan saya ketika saya sedang menderita.  Saya merasa berhutang budi kepadanya,”katanya.

Ternyata apa yang dilakukan Wu Jiafang ini menjad buah bibir masyarakat dan sudah pasti sampai ke telinga banyak orang.  Bukan hanya itu, cerita itu menyentuh hati perempuan-perempuan.  Tidak berapa lama kemudian, 16 perempuan menulis surat kepadanya dan menyatakan dirii ingin menjadi pendamping hidupnya.  Tanggal 16 oktober 2008, seorang wanita di shenzhen yang bernama Liu Rurong untuk menjadi pasangan hidupnya.  Dia berkata, “Dia jatuh cinta sama saya karena tersentuh akan kasih sayang saya terhadap istri saya terdahulu, dan juga karena dia menaruh belas kasih ke saya sebagai korban gempa.  Saya tidak memiliki apa-apa, namun dia mau menikah dengan saya tanpa syarat.  Karena itulah saya mencintainya.”  Hal senada dikatakan oleh Liu Rurong, “Dia adalah seorang petani biasa, pria yang ramah, kesederhanaannya menyentuh saya”

Ketulusan cinta seseorang kepada pasangannya tidak diukur dari seberapa banyak harta yang bisa dia berikan, tetapi dari seberapa keras usaha untuk melindungi, merawat, mendampingi, dan memerhatikan pasangannya.  Akan sangat mudah untuk memerhatikan pasangan ketika sehat dan banyak harta, tetapi tidak mudah ketika pasangan dalam keadaan menderita.  Mari kita tanamkan dalam diri kita cinta yang tulus sehingga apapun keadaan pasangan kita, kita tetap menunjukkan cinta itu dalam tindakan yang nyata.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Juni 2013 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: