RSS

SEEKOR LALAT

19 Jan

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah – sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar” katanya. Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah tertutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan – kawannya yang melambai – lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.

Si lalat pun terbang disekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap menggelilingi kaca dari atas kebawah dan dari kiri kekanan bolak balik demikian terus dan terus berulang – ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya nampak lalat itu tergletak lemas terkapar dilantai. Tidak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makanan dan ketika menjumpai lalat yang tidak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai – ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai – ramai membawa bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua “Ada apa dengan lalat ini Pak?, mengapa dia sekarat?”. Oh itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia – sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh – sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tidak menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita “Semut kecil itu nampak manggut – manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? kenapa tidak berhasil?”.

Masih sambil berjalan dan membawa bangkai lalat, semut tua itu menjawab “Lalat itu adalah seorang yang tidak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara – cara yang sama”. Semut tua itu memerintahkan rekan – rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini”

“Para pemenang tidak melakukan hal – hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Januari 2013 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: