RSS

“BELAJAR DARI HANA”

07 Des

(1 Samuel 1: 1-28; 2: 1-10, 21)

 

Di dalam Perjanjian Lama, paling tidak ada 3 tokoh wanita utama yang memiliki kesusahan besar karena tidak dikarunia anak. Tokoh yang pertama, Sarah, dihukum oleh Tuhan karena mentertawakan janji Tuhan bahwa ia akan mengandung dalam keadaan pasca menopause. Tokoh yang kedua, Rahel, cenderung untuk merajuk dan bersungut-sungut karena apa yang di alaminya. “Berikanlah kepadaku anak, kalau tidak aku akan mati,’ demikian tuntutan Rahel pada suaminya Yakub. Cuma Hana, yang tidak jemu-jemunya membawa kerinduannya untuk mejadi seorang ibu ini di dalam hadirat Tuhan. Ada beberapa hal penting yang dapat kita pelajari dari Hana hari ini:

 

Pertama, Pantang menyerah, meski orang-orang yang lain sudah menyerah.

 

Situasi yang ada di sekitar Hana bukanlah situasi yang mendorong orang untuk berdoa. Umat Israel di masa Hakim-hakim sudah semakin tidak rohani, moral mereka semakin bobrok. Yang mereka kejar Cuma materi dan kenikmatan. Perhatikan bejatnya moral anak-anak Imam Eli – Hofni dan Pinehas. Kalau anak-anak imam aja sudah ”kayak” begitu apalagi masyarakat kebanyakan. Orang yang berdoa malah diejek, diledek, dianggap aneh, Karena itu jangan heran kalau Imam Eli sendiri menganggap Hana yang sedang khusyuk berdoa sebagai seorang yang lagi mabuk.

 

Belum lagi situasi internal yang dialaminya bersama dengan Allah. Dikatakan bahwa Hana berdoa dari tahun ke tahun. Perlu waktu yang lama sebelum doanya dikabulkan oleh Allah. Ada orang yang mengatakan bahwa penderitaan itu punya potensi mendekatkan orang kepada Allah. Memang pernyataan ini ada benarnya! Namun kalau penderitaan tersebut tak kunjung usai, kebalikannya yang bisa terjadi. Orang tak lagi bisa percaya dengan Allah. Philip Yancey, dalam bukunya Kecewa Kepada Allah, menceritakan pengalaman seorang mahasiswa sekolah teologi, yang kehilangan imannya kepada Allah. Ketika dia mulai mengalami derita, dengan semangat dia menghampiri Allah dalam doa dengan pengharapan besar Allah akan mengangkat deritanya. Namun Allah belum juga mengangkat beban deritanya seiring dengan berlalunya wakty. Malahan masalah-masalah lain datang secara beruntun menghantam hidupnya. Akhirnya dia menyerah! Dia kehilangan kepercayaannya kepada Allah yang Maha Kasih dan Mahakuasa.

 

Namun Hana lain! Tahun-tahun ”kebisuan Allah” tidak membuatnya menyerah. Sementara semua orang yang lain sudah mengangkat lutut, Hana masih menekuk lututnya. Hana pantang menyerah. Tuhan yang akhirnya ”menyerah”. Seorang putera diberikan kepada dia.

 

George Muller, seorang rohaniwan besar dari Inggris pernah berdoa khusus untuk keselamatan 5 orang temannya. Pada tahun kelima, satu orang bertobat. Pda tahun ke sepuluh dua orang lagi bertobat. Pada tahun keduapuluh lima seorang lagi bertobat. Jadi tinggal satu orang lagi yang belum bertobat. Coba terka berapa lama lagi George Muller berdoa bagi yang terakhir ini? Dua puluh tujuh tahun! Itu berarti sampai akhir hayatnya George Muller berdoa. Hasilnya? Beberapa hari setelah George Muller wafat, ornag yang kelima ini memeutuskan untuk menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamatnya. Lima puluh dua tahun bukan waktu yang singkat untuk bertahan dalam doa bukan? Mungkin hanya sedikit dari anatara kita yang akan bertahan dalam penantian dan perjuangan selama itu. Tapi tidak demikian dengan George Muller.

 

Hari-hari ini mungkin ada di antara anda yang sedang mulai atau sudah sekian lama menggumulkan sesuatu di hadapan hadirat Allah. Bahkan mungkin ada di antara anda yang sudah mulai bosan atau capek, karena Allah seolah ”berdiam diri” dan ”membisu”. Belajarlah dari Hana hari ini – Tak ada kata menyerah, meski semua yang lain sudah menyerah.

 

Kedua, Selalu mengingat Allah di kala ada masalah dan bebas dari masalah

 

Hana akhirnya mendapatkan Samuel, Doanya terkabul! Namun demikian dia tetap melanjutkan persekutuannya dengan Allah. 1 Samuel 2: 1-10 menjadi bukti bagaimana Hana yang telah terkabul doanya dan membayar nazarnya tetap memuliakan Allah yang Hidup. Apa yang kita pelajari di sini? Hana ingat Tuhan bukan hanya di kala ada masalah, namun di kala terbebas dari masalah. Betapa kontrasnya, dengan kondisi sebagian besar dari antara kita. Ketika kita hidup susah, kita begitu rajinnya mencari Tuhan. Ketika anak kita sakit, kita begitu rajinnya doa pagi. Ketika usaha kita seret, kita begitu aktifnya ikut doa puasa. Namun apa yang terjadi sesudah Allah menenangkan badai-badai kehidupan itu. Kadang kita melupakannya! Kita lebih mengutamakan usaha ketimbang Tuhan. Kita lebih peduli dengan tuntutan anak untuk berekreasi keluar kota pada hari Minggu ketimbang memuliakan Allah yang telah menyembuhkannya dari sakit. Kita ingat Tuhan di kala susah, namun melupakan dia di kala senang!

 

 

Ketiga, bukan hanya berani meminta, namun berani juga untuk memberi yang terbaik.

 

Hana bukan saja berani meminta seorang anak kepada Allah. Ketika Allah sudah memberikan kepadanya Samuel, dengan berani Hana mempersembahkannya untuk pekerjaan Allah. Memang itu nazar dari Hana. Namun ingat, Hanapun sebenarnya bisa saja membatalkan nazar itu secara sepihak. Memang berat bagi Hana untuk berpisah dengan anak semata wayang. Namun dia merelakannya demi kemuliaan Allah. Dan Allah menghormati pengorbanan Hana. 1 Samuel 2: 21 mencatat: ”Dan Tuhan mengindahkan Hana, sehingga ia mengandung dan melahirkan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan lagi….”

 

Saudara inilah misteri dari berkat Allah dalam kehidupan orang-orang yang percaya penuh kepadaNya. Ketika kita berani kehilangan banyak untuk Tuhan, kita akan menerima lebih banyak. Ketika kita berani memberikan yang terbaik, Allah akan ganti dengan yang jauh lebih baik.

 

 

Amanda seorang anak berusia tujuh tahun suatu waktu diajak oleh ibunya berjalan-jalan di sebuah mal. Mata Amanda suatu saat tertuju pada etalase toko yang menjual kalung-kalung imitasi. Pada hari ulang tahunnya ia menuntut ibunya membelikan kalung yang dilihatnya di mal itu. Karena harganya tak terlalu mahal. Ibunya akhirnya meluluskan permintaan Amanda. Sejak hari itu kalung tersebut menjadi milik kesayangan Amanda.

 

Suatu hari Papa Amanda mendatangi Amanda dan bertanya: ”Nak Apakah kau sayang Papa?” ”Tentu saja, Pa!” sahut Amanda. ”Kalau begitu apa kamu mau meluluskan permintaan Papa?’ ”Kenapa tidak Papa” Sahut Amanda. ”Begini, papa mau minta kalung yang dibelikan ibumu, boleh tidak?” ”Kalau yang itu sih jangan Papa. Papa boleh minta boneka Barbieku, Papa boleh minta buku ceritaku. Tapi jangan kalung ini Papa. Ini milik kesayanganku.” Akhirnya Papa Amanda meninggalkannya. Sebulan kemudian dia mendatrangi Amanda dengan permohonan yang sama. Tapi jawaban yang diterimanya sama pula. Menjelang Natal, Papanya datang lagi dengan permintaan yang sama. Kali ini Amanda menyerahkan kalung kesayangannya kepada papanya. Papanya memasukkan kalung itu ke dalam kantong celananya. Namun dia tidak segera meninggalkan Amanda. Papanya mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya yang lain. Sebuah kotak, kecil tapi indah. Dia memberikannya kepada Amanda. Dan Amanda membukanya. Sebuah kalung yang jauh lebih indah dan terbuat dari mas murni diberikan oleh papanya sebagai ganti kalung yang diberikannya.

 

Kalau kita tidak ”itung-itung” dengan Allah, Saya yakin dan percaya Tuhanpun tidak akan ”itung-itung” dengan kita. William Carey, Perintis Pekerjaan Misi di India, mengingatkan kita, ”Jangan hanya berharap hal-hal yang besar bagi Allah saja, Cobalah lakukan hal-hal yang besar untuk Allah!”

 

 

Pdt. Gani Wiyono, ThM

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Desember 2011 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: